Showing posts with label INDONESIANA. Show all posts
Showing posts with label INDONESIANA. Show all posts

Sunday, December 14, 2025

Bencana Dahsyat, Dampak Kerakusan Pengusaha dan Kebodohan Penguasa (Bagian 1)

Banjir Sumatera: Bencana Ekologis Akibat Deforestasi dan Ekspansi Sawit.

 Banjir bandang di kawasan Gunung Nago, 
Padang, Sumatera (ANTARA FOTO)
      
Gila...Gilaaa! Ini benar-benar gila. Sepanjang Republik ini berdiri, baru kali ini, Indonesia mengalami bencana yang luar biasa dahsyat! Banjir bandang menghajar tiga propinsi sekaligus; Aceh, Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar). Memporakporandakan bangunan dan seluruh lanskap kota, serta pemukiman penduduk, gedung-gedung Pemerintahan, jembatan dan jalan serta  fasilitas layanan umum lenyap seketika tersapu banjir. 

Banjir dan tanah longsor ini  juga meluluhlantakkan ribuan hektar  sawah, kebun, ladang, kolam ikan,  hewan peliharaan dan ternak, seperti: ayam, itik, kambing, kerbau dan sapi, tak terhitung lagi berapa jumlahnya. Bagaimana dengan korban jiwa manusia? 

Monday, January 15, 2024

Image Inspire Action

 GAMBAR MEMBANGKITKAN TINDAKAN


       Ilustrasi: Model Maudy Ayunda mejeng di  Billboard Times
             Square New York,   (
instagram/@maudyayunda)

Sebuah billboard raksasa terpampang di sebuah hypermart megah di jantung kota Bekasi. Wajah Perempuan model terkenal dengan bibir sensual, seakan memandang tajam siapapun yang melihatnya. Di sebelah wajah sang model tampak sebuah produk telepon genggam made in China terbaru.

Pemasang iklan percaya betul dengan gambar seorang yang cantik, ramping, dan terkesan sexy and smart, sebagai representasi yang pas mewakili produk gadget terbarunya ini, berharap laris manis di pasaran.

Produsen pun sepertinya ingin menanamkan ke  dalam benak Gen- Z --sebagai target market-nya-- sebuah asosiasi-visual dari seorang model cantik, terkenal, sekaligus menggoda namun juga cerdas berkelas. 

Juga ingin menjauhi kesan murahan untuk gadget yang baru saja di launching ini. Dan hebatnya, billboard serupa, juga terpampang di berbagai lokasi strategis dan gerai-gerai handphone di berbagai kota, dalam ukuran yang berbeda.

Inilah sebuah strategi promosi yang bertolak dari pandangan image inspire action.

Thursday, April 09, 2020

Pembebasan Napi dan Logical Fallacy Najwa Shihab

Menyoal Pembebasan Bersyarat Napi Terkait Pandemi Covid 19 di Lapas

Najwa di Lapas Sukamiskin, Bandung
Gagasan pembebasan bersyarat sejumlah Narapidana (Napi) Umum, yang disampaikan  Menteri Hukum dan HAM Prof. Yasonna Laoly, terkait merebaknya pandemi wabah COVID-19, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR RI, belum lama ini, telah mengundang perhatian publik dan berbagai reaksi pro-kontra serta polemik di masyarakat.  
Pemicu polemik adalah munculnya misleading atau lebih tepatnya penyesatan opini publik, akibat dari kesalahan berpikir (logical fallacy) beberapa media massa di tanah air dalam merespon gagasan Menkumham.
Sebut saja, presenter kondang Najwa Shihab dalam reportasenya yang disiarkan sebuah televisi nasional, kemudian juga diunggah ke channel Youtube yang ditonton ribuan viewer. Terkesan bahwa Napi Koruptor, Narkoba dan Terorisme, yang disebutnya sebagai kejahatan dengan kategori luarbiasa (Extra Ordinary Crime), akan memperoleh pembebasan yang sama. 

Presenter kondang ini pun menampilkan tayangan tentang satu dua tahanan (Nazarudin, mantan Bendahara Partai Demokrat dan Setya Novanto, mantan Ketua DPR) sebagai representasi tahanan Koruptor, yang menghuni lapas Sukamiskin dengan fasilitas mewah.

Tuesday, December 20, 2016

Ketika Media Dalam Genggaman Kita

Berita dan informasi, lebih tepatnya: postingan (tulisan, gambar dan film/video) dari beragam sumber, kini dengan mudah memasuki ruang-ruang pribadi kita yang hidup di era persaingan teknologi informasi yang ditandai dengan perebutan pasar gadget yang teramat sengit, bahkan semakin menggila. Persaingan yang sama, juga merambah wilayah konten, yang membuat 'mabuk' siapapun.  Di mana posisi Anda berdiri saat ini?

Terus terang, sebagian orang tua yang terlahir dari generasi The Beatles, Rolling Stone atau KoesPlus, ada yang mulai merasa miris, jengah, bahkan kuatir dan merisaukan, jika anak-anak mereka mulai asosial, individualistik, cenderung berasyik masyuk dengan game, hingga tak lagi kenal waktu siang-malam. 

Sementara mereka sendiri, juga mabuk dengan media sosial, yang menyebabkan dirinya merasa galau jika bepergian tanpa gadget, biar sebentar saja. Betapa tidak, media sosial memang bak sihir yang menghipnotis! 

Apalagi konten yang beredar akhir-akhir ini. Isu-isu politik menjadi perbincangan orang-orang di pinggir jalan. Sebut saja sikap Presiden yang ambigu menghadapi krisis politik dalam kasus penistaan agama oleh gubernur DKI (non aktif) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.


Wednesday, December 07, 2016

Raja Bali, Sederhana dan Merakyat

''Sejatinya, anak-anak adalah tunas budaya, penentu eksistensi dan keberlanjutan peradaban bangsanya. Oleh karenanya mari bersama-sama kita jaga dan kita rawat tunas-tunas peradaban ini,” --Anak Agung Ngurah Gede Kusuma Wardana, Panglingsir Puri Agung Kesiman--

Anak Agung Kusuma Wardana, Panglingsir 
(Pemimpin) Puri Agung Kesiman.
Anak Agung Kusuma Wardana, salah seorang pewaris tahta Raja Bali ini, terkesan hidup sederhana, merakyat dan lebih suka menyembunyikan identitasnya sehingga ia dikenal sebagai 'Raja Ngemper'.

Ditemui di kediamannya di Denpasar, belum lama ini, dia segera menyambut dengan tersenyum, hangat dan bersahabat. Tanpa banyak berbasa-basi, kami pun segera akrab dan terlibat dalam aneka topik pembicaraan.


Ia berkisah tentang keprihatinannya terhadap banyak hal. Seperti karya seni: lukisan, atau tentang kebudayaan dan generasi muda. Bahkan, bidang pertanian dan hasil-hasil budidaya pertanian, tak luput dari perhatiannya,  yang menurut dia sangat penting untuk 'memberi makan rakyat' yang semestinya mendapat perhatian lebih dari Pemerintah.


Sekolah Alam Anak Suku Bajo

Anak-anak Suku Bajo, tidak mengenal bangku sekolah dan pakaian seragam. ‘Sekolah Alam’ di ruang terbuka, lebih mereka sukai.

Laut adalah keseharian Anak-anak
Suku Bajo di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, secara kultur lebih akrab dengan laut. Di masa lalu mereka hidup berpindah-pindah. Tak heran, hingga kini suku Bajo bisa ditemukan di Malaysia dan Filipina Selatan. 

Di Bone, Sulawesi Selatan, mereka tinggal di kawasan pesisir, membangun rumah-rumah panggung di atas laut, dengan mata pencaharian sebagai nelayan. Namun, mereka  cenderung mengisolasi diri.

Anak-anak Suku Bajo,
di atas sampan kayu.
Anak-anak suku Bajo, umumnya tidak bersekolah.Namun jangan ditanya lagi, kepiawaian mereka ketika berada di laut. Laut adalah bagian dari diri mereka, laut adalah keseharian mereka, mereka begitu akrab. 

Jika manusia normal rata-rata bisa menahan napas selama dua menit saja, anak-anak suku Bajo rata-rata bisa menyelam lebih dari lima menit ke dalam laut tanpa bantuan oksigen atau peralatan, cukup  bertelanjang dada langsung terjun!


Saturday, August 06, 2016

Ulah Terpidana Mati Freddy Budiman

Freddy Budiman pada
persidangan PK
Pengakuan model majalah pria dewasa Vanny Rossyane mengangkat lagi nama gembong narkoba Freddy Budiman. Pria 37 tahun itu disebut Vanny mendapat fasilitas khusus selama menjalani pidana 18 tahun di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II Cipinang, karena punya uang banyak. Ia masih bisa pesta sabu dan berhubungan intim dengan teman wanitanya seminggu tiga kali di ruangan khusus yang ada di lapas.

Freddy sebetulnya bukan kali ini saja berurusan dengan hukum, ia sudah sering keluar masuk penjara karena kasus narkoba. Catatan yang dikumpulkan VIVAnews, tahun 2009 Freddy pernah tertangkap karena memiliki 500 gram sabu-sabu. Saat itu, dia divonis 3 tahun dan 4 bulan.

Freddy kembali berurusan dengan aparat pada 2011. Saat itu, dia kedapatan memiliki ratusan gram sabu dan bahan pembuat inex. Terakhir, Freddy diketahui menjadi terpidana 18 tahun karena kasus narkoba di Sumatera dan menjalani masa tahanannya di LP Cipinang.



Kesaksian Bertemu Freddy Budiman di Lapas Nusa Kambangan

CERITA BUSUK DARI SEORANG BANDIT 

Haris Azhar, Koordinator Komisi
untuk Orang Hilang
dan Tindak Kekerasan (KontraS)
Cerita yang disusun ini adalah fakta peristiwa. Bertujuan untuk membuktikan bahwa pelaksanaan hukuman mati yang didukung dengan keterlibatan instansi-instansi negara dalam bisnis obat-obat terlarang adalah sesuatu yang benar, namun tidak pernah terusut. Negara bersalah apabila eksekusi mati kepada 14 orang malam ini dan selanjutnya tetap dilakukan, tanpa ada sistem koreksi total di dalam tubuh badan-badan keamanan di Indonesia. Silakan sebarkan!!
***
Cerita Busuk
 dari seorang Bandit:
Kesaksian bertemu Freddy Budiman di Lapas Nusa Kambangan (2014)
Ditengah proses persiapan eksekusi hukuman mati yang ketiga dibawah pemerintahan Joko Widodo, saya menyakini bahwa pelaksanaan ini hanya untuk ugal-ugalan popularitas. Bukan karena upaya keadilan. 

Hukum yang seharusnya bisa bekerja secra komprehensif menyeluruh dalam menanggulangi kejahatan ternyata hanya mimpi. Kasus Penyeludupan Narkoba yang dilakukan Freddy Budiman, sangat menarik disimak, dari sisi kelemahan hukum, sebagaimana yang saya sampaikan dibawah ini.


Sunday, July 31, 2016

Indonesia Gawat Narkoba VS Dilemma Aparatur Intelijen

Pemerintah beserta seluruh rakyat dan bangsa Indonesia dewasa ini, tengah menghadapi ancaman dan tantangan yang sangat berat terkait Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Presiden RI Joko Widodo, menyampaikan kekhawatirannya pada Sidang Kabinet Akhir Tahun 2014 dengan menyatakan “Indonesia Darurat Narkoba”.
Barang Bukti Narkoba yang Berhasil Disita Beserta Para
Tersangka Pelaku Penyelundupan (foto: tempo)
Presiden kemudian memerintahkan kepada Seluruh Jajaran pemerintahan, khususnya Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) sebagai Agen Pelaksana (Executing Agency) dan/atau Motor Penggerak (Leading Sector) dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di Indonesia, untuk melakukan Penanggulangan (Tanggap Darurat) sebagai akibat dari Darurat Narkoba.
Ancaman dari tindakan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di Indonesia, memang sudah berada pada tingkat yang memperihatinkan. Tingkat ancamannya sudah bukan lagi pada tingkat ancaman Minor, Moderat, ataupun Serius, tetapi sudah pada tingkat ancaman yang tertinggi, yaitu ancaman Kritis
Barang Bukti Narkoba, Siap Dimusnahkan
Hal ini terlihat, tidak hanya dari luas area persebaran kejahatan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika yang terjadi hampir di seluruh wilayah NKRI, tetapi juga dari segi jumlah (kuantitas) barang bukti narkotika yang berhasil disita (dari berbagai jenis narkotika), dari tahun ke tahun secara kuantitas mengalami peningkatan secara signifikan.

Berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian, Data, dan Informasi (PUSLITDATIN) Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI), yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan (PUSLITKES) Universitas Indonesia (UI), pada Tahun 2014 tentang “Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia”, diketahui bahwa angka prevalensi penyalahguna narkoba di Indonesia telah mencapai 2,18% atau sekitar 3,8 juta sampai 4,1 juta orang yang pernah memakai narkoba dalam setahun terakhir (Current Users) pada kelompok usia 10 – 59 tahun.


Monday, July 11, 2016

Kenikmatan Berbagi di Hari Raya Idul Fitri 1437 H


Sebuah kegiatan terbesar bangsa Indonesia, yang tidak masuk ke dalam kalender resmi adalah: Hari Mudik Nasional. 

Together We Strong
Hari mudik ini rentangnya cukup panjang, bisa seminggu bahkan dua minggu, yaitu Hari Minus 7 hingga Hari Plus 7, yang puncaknya tahun ini jatuh pada tanggal 6 Juli 2016 atau bertepatan dengan 1 Syawal 1437 H dalam kalender Islam.

Bangsa Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim terbesar di dunia, merayakan Idul Fitri atau hari kemenangan, setelah menahan diri selama sebulan penuh. Inilah saatnya, kembali kepada keadaan sebagaimana ketika seseorang dilahirkan laksana bayi yang terlahir suci, bersih tanpa dosa (fitrah). Dan hari itu, sekaligus menandai berakhirnya bulan Ramadhan.

Kenikmatan dan kegembiraan ini, sejatinya, terasa belum lengkap tanpa kehadiran orang-orang tercinta, termasuk yang utama adalah anggota keluarga, kedua orang tua, sanak saudara dan kaum kerabat.

Kerinduan dan berbagi suka duka, adalah kebutuhan batin dan awal keceriaan. Dan inilah pula magnet yang menyedot jutaan orang dari kota-kota besar di Indonesia untuk melakukan 'perjalanan' setahun sekali pulang ke kampung halaman masing-masing.

Tuesday, March 29, 2016

Kasus CIS RISI PLN (Behind The Story)

Dua mahasiswa yang terpaut usia berbeda, berkesempatan mengenyam pendidikan di tempat terbaik di Indonesia. Kemudian melanjutkan pendidikan ke universitas bergengsi di luar negeri. Dengan penuh idealisme, setamat kuliah, mereka pun pulang ke tanah air untuk berkarya bagi bangsanya. Sayangnya, KPK kemudian menghentikan karier dua anak bangsa berprestasi ini di tengah jalan. Apa yang terjadi?
(foto: Antara)

Dalam rentang waktu yang berbeda, keduanya pun pulang. Ir. Eddie Widiono Suwondo, MSc. MM, jebolan Teknik Elektro ITB (1976) dan University of London (1989) itu, kemudian berkarier di perusahaan listrik negara. Dari semula pegawai biasa, kariernya melesat dengan meraih berbagai posisi penting di PLN, hingga akhirnya menjabat Direktur Utama PT. PLN (2001-2008).

Sementara, DR. Gani Abdul Gani, MSc.,  lulusan Teknik Elektro Politeknik ITB (1986), Telekomunikasi Huddersfield University, England (1989) dan Loughborough University of Technology, England, bidang Telekomunikasi Digital (1990) serta Manajemen Bisnis bidang Keuangan, Fakultas Ekonomi, Unpad Bandung (2009) itu, mengabdi sebagai dosen di Politeknik lalu mengelola bisnis trainning dan bersama rekan satu almamaternya mendirikan PT. Netway Utama, yang bergerak di bidang Teknologi Informasi.

Trainning bidang IT yang memudahkan manajemen perkantoran menangani pelanggan berskala besar, ketika itu  boleh dibilang masih baru. Maka, klien peserta training kebanyakan berasal dari kalangan karyawan BUMN. Seperti Pertamina, Perbankan, PDAM, termasuk PLN. 

Seorang peserta training dari PLN bercerita tentang kondisi runyam perusahaannya. Dan mencari solusi dari sisi teknologi dan manajemenIT. Dan ia pun mengusulkan pimpinan trainning itu untuk presentasi di hadapan Direksi.


Saturday, March 05, 2016

PolitiKing

“Begini ya…, sampeyan maju saja, nanti semuanya kita atur!”
“Lha, saya nggak ada duit?”
“Sudah, beres. Ikuti saja arahan kita!”
“ Siaaap!”
“Pokoke, gampanglah… semuanya sudah beres, sudah kita atur ya!”

Itulah sepenggal dialog, tepatnya sebuah kesepakatan  dua begundal di sebuah hotel berbintang sebuah  kota kecil, di Jawa Timur, menjelang  Pilkada serentak tanggal 9 Desember 2015 di Indonesia.

Maka pada hari dan jadwal yang ditentukan, kedua pasang calon (paslon) itu pun maju, mendaftarkan diri sesuai tatacara dan prosedur yang telah ditentukan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD).

Friday, February 26, 2016

Anak Presiden Kok Jualan Martabak? Adik Gubernur di Daerahku aja "Jualan" Proyek APBD


Gibran Rakabuming Raka, anak sulung Presiden RI Jokowi
berjualan martabak.( Foto: live.via.co.id)

Mari kita simak, celotehan Emak-emak di sebuah arisan:
“Jeng, baca nih. Mosok anak presiden kita jualan martabak. Ih, gak banget deh...” 
“Ah, pencitraan kali...?” 

“Bener ini Jeng. Baca deh. Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Jokowi berjualan martabak kaki lima...” 
“Bodoh banget ya dia... Adik gubernur di daerahku aja ‘jualan’ proyek APBD.” 

“Iya, padahal apa susahnya dia minta fee dari proyek-proyek APBN? Atau minta saham ke Freeport kek, ke Petral kek. Terus, bisa tiap hari tuh kerjaan dia jalan-jalan ke luar negeri sama artis, nonton balap formula 1...” 
“Anak presiden yang aneh...

Thursday, February 25, 2016

Jumat Keramat Bagi Tersangka Koruptor

Ini cerita lama, dua tahun silam, ketika saya mengikuti ‘perjalanan’ singkat sepasang suami istri yang kebetulan seorang Bupati dan anggota DPRD tersangka Koruptor. Keduanya ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terkait pemberian izin pembangunan kawasan superblock mall di Karawang.

Kita flashback sejenak. Laman Kompas.com edisi 15 April 2015, menurunkan  berita:  
Ade Swara dan Istri, Hj. Nurlatifah,
ketika membacakan nota pembelaan
(pledooi) di PN Tipikor Bandung

Bupati Karawang nonaktif Ade Swara divonis hukuman enam tahun penjara dengan denda Rp 400 juta subsidair empat bulan kurungan dalam kasus dugaan pemerasan, penyuapan dan pencucian uang terkait pengurusan izin Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL) PT Tatar Kertabumi di Kabupaten Karawang dan pencucian uang.

Sementara itu, dalam dakwaan yang sama, istrinya, Nurlatifah, divonis hukuman lima tahun penjara dengan denda Rp 300 juta subsider tiga bulan kurungan. 



Tuesday, November 24, 2015

The Notorious Setya Novanto

Jarum jam sejenak berputar ke belakang, pada peristiwa yang terjadi  setahun lebih sebulan silam.Tepatnya Kamis 2 Oktober 2014, ketika itu, para politisi Senayan sepakat memilih Setya Novanto mantan Bendahara Umum Partai Golkar, sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI).
Setya Novanto

Meski suara di luar gedung penuh dengan hiruk pikuk pro dan kontra, tetapi nama Setya Novanto tetap melejit berkat negosiasi antar pimpinan partai pemenang Pemilu. 

Satu hal yang penting dari sisi buruk demokrasi kini tampak nyata, bahwa suara terbanyak bukan berarti suara terbaik! 

Aroma politik dagang sapi, kental tercium diantara tawar menawar dibalik lobi voting siapa yang bakal menjadi pimpinal lembaga yang terhormat itu.


Tuesday, November 17, 2015

Pendonor Jenazah Itu, Telah Tiada

Yefigarata S. Graputin,











Nama aslinya: Maulana Patarani (63) tetapi lebih dikenal dengan Yefigarata S. Graputin,  Perawakannya kerempeng, rambutnya yang berwarna jagung dibiarkan panjang.Penampilannya lusuh dan cuek. Tetapi dia selalu tampak tersenyum dan senang bercanda.

Jebolan Sekolah Tinggi Filsafat Drijarkara ini juga senang menulis puisi. Selera humornya tak pernah kering...selalu saja ada bahan cerita yang tak lain berisi tentang  kemelaratan dan kesusahan hidup yang diejeknya dengan ringan dan santai, nyaris tanpa beban.

Seniman dan sekaligus mantan Wartawan ini, Kamis (12/11/2015), sekitar pukul 11.00 siang, ditemukan tengah merintih di sebuah kamar yang sempit di bilangan Kampung Bahagia, Babelan, Bekasi Utara.

Mulyono, pemilik rumah, yang sudah seperti saudaranya itu, segera menemuinya dibantu Hapsah, istrinya, mereka berdua bersusah payah berusaha mengeluarkan Yefi, panggilan akrabnya dari kamar sempit itu dan  segera mencari pertolongan.

Di tengah perjalanan ke Rumah Sakit terdekat, Yefi ternyata sudah tiada. Mulyono memutuskan untuk balik kanan sebelum sampai Rumah Sakit. Tiba di rumah dia memanggil dokter untuk memastikan. Dan benar, Yefi dinyatakan sudah meninggal, itu sekitar pukul 12.00. Kontan para tetangga heboh. Pasalnya, tidak sedikit yang melihatnya dalam keadaan sehat, bahkan sempat bercanda seperti kebiasaannya, tak luput dirasakan para tetangga sekitar.


Friday, July 10, 2015

Gowes: Antara Fun, Fancy and Modist


Apa yang membuat orang ketagihan bersepeda? Ternyata, bergowes ria bukanlah sekadar sport. Ia adalah gabungan fun, fancy and modist

Betapa tidak, ketika kita meluncur di jalan raya, Anda harus tampil menyolok, seterang-terangnya. Ini dihasilkan dari pakaian yang kita kenakan. Gunanya, supaya pesepeda mudah terlihat oleh para pengguna kendaraan lain, dan Anda tidak mudah tertabrak dengan sengaja.

Jadi, perkara pakaian dengan warna moncreng, yang semula tidak saya sukai, mau tidak mau kini kita senangi karena ia berperan membantu keselamatan kita.

Selain itu, jenis bahan kain yang digunakan, hendaknya yang dapat menyerap keringat dengan model dry fit alias tidak meningalkan bekas keringat menempel di badan dalam waktu yang lama, tetapi keringat yang keluar akan segera kering tatkala pakaian itu terkena hembusan angin.

Hal penting lainnya, dalam pemilihan pakaian adalah hendaknya jenis dan model pakaian yang kita kenakan yang membantu meringankan badan kita ketika melaju di jalan raya. Bukan sebaliknya, pakaian yang menghambat laju percepatan sepeda kita, maka hendaknya kita pilih model pakaian yang menempel ketat di badan agar aerodinamis atau memuluskan jalannya aliran angin ketika ketika kita menerjangnya.

Wednesday, June 03, 2015

Gowess...Hobby Baruku

Setelah 'berjuang' susah payah mendaki jalan terjal
menanjak sepanjang 11 km, akhirnya kami mendarat
 di sebuah tonggak patok bertuliskan Km 0
di kawasan Sentul, Bogor, medio Mei 2015 
Suatu ketika, saya mendapat telepon dari seberang sana. '' Hey bro....lagi ngapai? Loe mau gak kalo gua kirim sepeda ke rumah?''

"Maksudnya?  Dikirim Sepeda??" jawab saya spontan.
setelah dia ulangi lagi tawarannya.
Saya pun kembali terkejut.
Whaaat...? Buat apa sepeda? Saya juga punya Polygon yang dulu kira-kira dibeli sebagai hadiah ulang tahun anak saya, tapi sekarang teronggok saja di gudang. Hampir tak pernah saya sentuh! begitu juga dengan anak saya, cuma pernah dipakai anak saya ketika sepeda itu baru datang. ya, dipakai sebentar, setelah itu tak pernah lagi saya liha dia bersepeda.

Begitulah saya bergumam dalam hati.

''Ini sepeda (dulu ketika masih baru) sengaja dipesan dari seberang laut, lebih dari 12,000 mil jaraknya dari rumahmu,''. Owww...terbayang betapa berharganya barang satu ini, kupikir. Maka, tanpa berpikir panjang, segera saya meluncur menemuinya. Dan benar saja, sebuah sepeda bernama GT Avalanche Seri 3, sudah nongkrong di sana, menunggu saya menjajalnya.

Lantas kenapa diberikan pada saya? Pertama, dia sudah membeli yang baru, dan tentu saja barang lama gak akan dipakai lagi malah hanya akan mempersempit gudangnya saja. Alasan kedua, dia ingin 'menularkan' hobby bersepedanya kepadaku. Dan di atas segalanya, ada hidden agenda yang tidak diucapkan, dia punya teman yang bisa diajaknya gobar (gowes bareng) serta tentu saja ingin menularkan gaya hidup sehatnya, karena saya tampak selalu loyo...hehehe.


Wednesday, January 28, 2015

Pekalongan, Kota Kreatif yang Pantas Anda Kunjungi!

Motif  Batik Pekalongan
BATIK dan PEKALONGAN ibarat dua sisi dari sebuah mata uang. Begitulah mindset yang seketika muncul di dalam benak seseorang, ketika dihadapkan dengan salah satu dari dua kata itu. Khususnya  bagi para pendatang atau orang-orang yang berasal dari luar kota Pekalongan.

Ms. Irina Bokova,
Direktur Jenderal UNESCO
Asosiasi spontan publik yang mengaitkan suatu kata dengan padanan yang serasi itu, menukik kepada suatu produk tekstil yang khas dan unik yang hanya dibuat oleh dan berasal dari sebuah Kota di Pesisir pantai Utara Jawa.

Sejatinya, kegiatan membatik adalah proses memintang warna dengan menggunakan canting atau cap untuk menggambar dalam sehelai kain atau media lain, seperti kayu dan kertas. 

Namun di dalam proses itu, banyak melibatkan unsur daya cipta dan kreasi, yang sarat nuansa akan  sentuhan seni, sehingga hasilnya dapat menggugah banyak orang untuk memberikan apresiasi, kemudian berhasrat untuk memiliki serta tertarik  untuk memakai atau menggunakannya.


Monday, January 26, 2015

Pekalongan On My Mind's: Kota Kreatif Dunia

Sering kita dengar sejumlah anggota dewan beramai-ramai melakukan studi banding ke berbagai kota di luar negeri. Entah ke kota-kota masyhur di belahan Eropa Barat  atau kota-kota di Amerika Utara, Australia, Jepang, Korea Selatan, dan lainnya, dengan menghabiskan anggaran negara yang fantastis namun hasilnya minimalis! 

Kunjungan kerja adalah judulnya. Praktiknya, yang dominan adalah refreshing, cuci mata dan dolanan! 

Tidak ada salahnya bekerja sambil jalan-jalan. Yang salah adalah jika seusai  jalan-jalan dan kembali ke tanah air, mereka tidak membawa apapun di dalam benak (selain foto-foto dan sejumah barang belanjaan). 

Tidak ada yang tersisa dari pertemuan dan penglihatan yang kemudian  bisa inspirasi untuk dipelajari kemudian didiskusikan di ruang perdebatan para anggota dewan yang terhormat itu. Studi Banding hanyalah sekadar judul besar yang 'membiayai' seluruh paket kegiatan mereka selama di luar negeri.