Showing posts with label EDITORIAL. Show all posts
Showing posts with label EDITORIAL. Show all posts

Wednesday, January 21, 2015

Kita Butuh Menteri Maritim Sekelas Laksamana Cheng Ho

Mengunjungi Kuil Sam Po Kong,
Semarang, (November 2016) dengan
latar belakang patung Kaisar Cheng Ho.  
Suatu siang di bulan Agustus 2014 yang lalu, saya  berkesempatan  minum kopi dengan seorang Pelaut gaek di lantai 2  gedung BCP, Bekasi yang agak bising namun lumayan nyaman untuk menikmati sepotong view kota Bekasi.  

Setelah berbincang hampir 2 jam dengan Capt Gita Ardjakusumah, mantan Nakhoda Phinisi Nusantara 1986 Vancouver Expo- Canada itu, kami pun berpisah. Malamnya di kantor sebuah koran,  saya tulis sebuah tajuk dengan judul "Kabinet Baru Butuh Menteri Maritim Sekelas Laksamana Cheng Ho".  Berikut tajuk lama itu, saya upload kembali untuk Anda. 

SETELAH Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumunkan hasil rekaputilasi PILPRES 2014, Selasa malam, 22 Juli 2014, kubu Jokowi-Jusuf Kalla langsung mendeklarasikan kemenangannya di atas kapal tradisional phinisi di pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara. 

Dermaga Ujung Surabaya (foto:shelter)
Apakah locus delicti deklarasi di atas kapal phinisi  "Hati Buana Setia" itu, suatu kebetulan atau memang sudah dirancang? 

Benarkah ada hubungannya dengan komitmen Jokowi untuk mengembalikan kejayaan laut Indonesia,  Pilihan kapal phinisi sebagai simbol budaya laut,  juga mengindikasikan pembangunan kawasan Indonesia timur dan  penguatan kembali akar kebangsaan kita.

Apapun alasannya, yang jelas, di bawah kepemimpinan Jokowi-JK ke depan,  Indonesia akan menerapkan pembangunan berwawasan Maritim. Dan Jokowi-JK bertindak sebagai Nakhoda Agung yang akan melayarkan biduk besar bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Ibarat sebuah kapal, bagaimanapun besarnya NKRI Nusantara hanya akan menyisakan ruang akomodasi yang kecil bagi para awak kapalnya, karena sebagian besar ruangan akan dipakai untuk dipenuhi muatan atau penumpang.

Friday, July 19, 2013

Kenaikan Harga BBM, Kebijakan Publik Paling Absurd

Begitu banyak peristiwa penting, kejadian luar biasa yang kita lihat, dengar dan saksikan. Mulai dari para politisi yang berusaha mencuri start sebelum musim kampanye tiba untuk menjagokan kandidat calon-calon presiden dan wakil presiden 2014 mendatang, hingga ke soal-soal dapur dan isi perut kita. Seperti harga-harga daging dan sembako yang terus meroket menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu yang lalu, tetapi dampaknya terus berlanjut hingga memasuki pertengah bulan July 2013, yang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan 1434 H. Dan ini terjadi di sebuah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. 


Seorang pedagang di Pasar
Induk Kramat Jati, Jakarta Timur
Mungkin kenaikan harga-harga daging sapi, cabai, bawang merah, kubis, minyak goreng, tidak terlalu penting buat Anda. Tetapi akan sangat berarti bagi Ibu-ibu dari keluarga golongan menengah ke bawah, yang setiap hari harus mengunjungi pasar untuk membuat dapur keluarga tetap bisa ngebul

Apa yang dirasakan? Jika dulu dengan uang Rp 20,000 bisa membeli sayur mayur lengkap dengan bumbunya, kini uang sejumlah itu masih terasa kurang! Mereka dipaksa untuk merogoh koceknya lebih dalam lagi hingga Rp.30,000  atau bahkan sampai Rp. 50,000. Sementara pendapatan sang suami tidak bertambah. Alhasil, terpaksa mereka harus rela untuk mengurangi kenikmatan, karena tidak bisa mengkonsumsi daging sapi, yang harganya terus membumbung!

Seorang rekan di situs jejaring sosial, dengan singkat dan tajam mengomentari tindakan Pemerintah dalam merespon mahalnya daging sapi, dengan gaya bercanda yang cerdas. Ini dia, Kafi Kurnia:  ".... begimane ngak runyam ...... pertama harga daging naik gila-gila-an ..... terus Presiden minta di lakukan impor daging segera ..... eeeeh .... ijin-nya telat ..... terpaksa impornya pake kapal terbang .... tetap aje jumlahnya terbatas dan harganya tetep mahal (wong daging naik kapal terbang ..... gimane ngak mau mahal ???) ..... daging udah masuk ..... yang jualan dipasar ogah jual .... lha yang diimpor daging beku .... ??? .... konsumen maunya daging segar ...... KESIMPULAN : ancur total !!! dan gagal ngurus !!!


Tahukah Anda bagaimana Gita Wirjawan tidak blingsatan, setelah disemprot Presiden karena harga daging sapi yang terus melambung justru disaat sebagian besar masyarakat tengah berpuasa dan sebentar lagi memasuki hari raya Lebaran, kemudian berlanjut ke Hari Natal dan Tahun Baru? 

Tuesday, February 26, 2013

Gurita Korupsi Demokrat: Pertanda Awal Kejatuhan Partai Berkuasa di Indonesia

Pembaca yang terhormat. Saya harus memohon maaf yang sebesar-besarnya, karena hampir dua bulan sejak saya menulis pesan akhir tahun (selamat datang 2013), hingga kini belum meng-update blog ini. Padahal, dalam selang dua bulan ini, begitu banyak peristiwa menarik yang terjadi di sekitar kita, tetapi saya tidak menuliskannya.

Mulai dari banjir besar yang menenggelamkan Jakarta sebagai Ibukota Indonesia, hanya berselang beberapa bulan setelah Fauzi Bowo (incumbent Gubernur) dikalahkan dalam Pemilu Kepala Daerah DKI Jakarta oleh Jokowi, mantan Walikota Solo, yang fenomenal itu.

Munculnya Jokowi-Ahok (lihat: Akhirnya Wong Solo itu, Memimpin Jakarta)  hampir bertepatan dengan  terjadinya banjir besar lima tahunan yang menyebabkan Jakarta mengalami banjir besar, bahkan istana negara juga tergenang air. Analisis dari peristiwa banjir Jakarta, akan saya tulis tersendiri, dengan fokus: Saat Yang Tepat Menata kembali Ibukota (Mengurai Benang Kusut Kemacetan Lalu Lintas Jakarta Dengan WaterWays).


Peristiwa menarik lainnya, terjadi di arena politik nasional. Mengapa tentang politik? Saya memang tidak tertarik menulis politik, pertama karena bukan bidang yang saya kuasai. Maka tulisan saya mengenai hal ini pasti akan sangat dangkal.

Tetapi, ada alasan saya yang kuat  seakan mendesak pikiran saya untuk menulisnya, bahwa: saya dapat menggambarkan bagaimana perasaan umum orang-orang awam yang menjadi 'korban' dari permainan politik. Sehingga saya harus mengakui kebenaran pendapat yang mengatakan: jika Anda tidak perduli dengan politik, maka bersiap-siaplah Anda menjadi korban (permainan) politik. Dengan kata lain, jika Anda membiarkan orang-orang yang tidak bermutu berkiprah di arena politik, maka siapkan diri Anda untuk dipimpin oleh orang-orang yang lebih jelek dari Anda!

Thursday, November 22, 2012

ISRAEL ANTARA SHAKESPEARE DAN CHEKOV*

Oleh: Akhmad Sahal

Konflik antara Israel dan Palestina, kata sastrawan Israel Amos Oz, adalah tragedi setragis-tragisnya. Karena yang menyulut konflik tersebut adalah benturan dua klaim yang sama-sama tidak mau mengalah. Lantas bagaimana mungkin tragedi semacam ini bisa disudahi? Amos Oz menyebutkan dua pilihan cara penyelesaian: model Shakespeare atau model Chekov.

Akhmad Sahal
[courtesy:Tempo.Co]

Pada model Shakespeare, konflik berakhir ketika semua pihak yang terlibat saling menghabisi satu sama lain, sehingga pada akhir cerita semua mati terbunuh. Lihatlah misalnya babak akhir lakon Hamlet. Duel antara Hamlet dan Laertes tidak hanya berujung pada kematian keduanya, melainkan juga menyeret ibunda Hamlet, Gertrude, dan raja Claudius ke liang lahat.

Sebaliknya, pada model Chekov, konflik diselesaikan melalui resolusi yang sama sekali jauh dari memuaskan siapapun, mengecewakan, dan bahkan mungkin menyisakan luka. Namun, masing-masing pihak tetap hidup.

Oz sendiri menaruh harapan agar negaranya memilih model Chekov dan bukan Shakespeare dalam menangani perseturuannya dengan Palestina. Artinya, jalan perundingan, bukan jalan militer. Sebab menurutnya, sejelek-jeleknya kompromi tetap lebih baik daripada perang habis-habisan a la duel Hamlet.

Harapan yang masuk akal, mengingat Amos Oz adalah pendiri gerakan Shalom Achshav (Damai Sekarang Juga) yang gencar menentang kebijakan pemerintahnya menyangkut West Bank dan Gaza. Namun harapan novelis Israel itu tampaknya hanya menjadi suara sayup yang melemah, ketika politik Israel semakin diwarnai oleh menguatnya kelompok sayap kanan, yang dibarengi dengan merosotnya kekuatan gerakan kiri.


Monday, September 03, 2012

Realitas Media Yang Menipu

Kesan Seminggu Menonton TV
Kita adalah pemegang kendali atas apa yang ingin dilihat. Anda berhak mendapatkan tayangan yang patut, program yang layak untuk ditonton dan didengar. Jangan biarkan pikiran, badan dan jiwa Anda sepenuhnya 'didikte' oleh selera media.  Terbius oleh tayangan televisi, bacaan koran-koran kuning, yang (sebagian besar) hanya mengeksploitir instink rendah manusia. 

Jadilah pemirsa yang cerdas dalam menonton televisi dan kritis membaca suratkabar.  Sebab liputan media massa, ibarat sepotong cermin yang dipungut dari ribuan pecahan yang masih berserakan dari sebuah mosaik besar yang disebut realitas!    

kerumunan pers ketika meliput
suatu peristiwa [portaltiga.com]
Dalam sepekan terakhir ini, media massa nasional yang (mayoritas) terbit dan bermarkas di Jakarta, seakan mendapatkan 'berita besar'. Para pembaca koran, pemirsa televisi dan pendengar radio-radio, yang tersebar di berbagai penjuru tanah air, menjadi tahu (well informed)

Bahwa di Ibukota kota Jakarta telah terjadi 'peperangan' dua kelompok preman asal Ambon yang bertikai dengan preman asal Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menyebabkan seorang tewas dan beberapa mengalami luka-luka, akibat pukulan dan bacokan. Perkelahian antar gang preman ini ditengarai oleh perebutan lahan penjagaan sebuah lokasi keramaian di daerah Kamal, Cengkareng, Jakarta Barat.

kerusuhan di Sampang, Madura
[lensaindonesia.com]
Sebelumnya, para pembaca surat kabar dan pemirsa televisi nasional juga menikmati liputan tentang terjadinya kebakaran pasca Idul Fitri di beberapa tempat di Jakarta, akibat dari korsleting listrik, faktor kelalaian manusia dalam suasana musim kemarau yang panjang.

Sementara, di luar Jawa, sebut saja pulau Madura, telah terjadi pertikaian diantara sesama umat Muslim, yang disebut-sebut berasal dari para pengikut Islam Sunni dengan pengikut islam Syiah, yang menyebabkan pembakaran beberapa rumah di sebuah desa di Sampang, sehingga sejumlah penduduk harus mengungsi untuk menghindari suasana genting. Pertikaian yang terjadi di dalam satu agama ini memang jarang terjadi, dan karena itu mengundang perhatian yang besar dari media massa.

Sunday, February 19, 2012

The Real Internet Income: Siapa Memberi, Dia Menerima

The Real Internet Income yang sukses sepertinya memang mengikuti hukum Kebajikan sebagaimana inti pesan yang dibawa para nabi dari jaman ke jaman. Dan kini sudah kembali ke abad kita hidup sekarang: Siapa Menabur Angin, Dia Menuai Badai. Siapa Banyak Memberi, Dia yang akan (lebih) banyak (lagi) Menerima.

Mari kita lihat. Apakah Anda sempat mengamati bagaimana situs-situs di internet bisa menjadi mesin uang jutaan bahkan milyaran dollar kepada pemiliknya? Bagaimana mesin pencari seperti Google, Yahoo atau situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, MySpace, Badoo dan lainnya bisa menjadi 'durian runtuh' bagi pemiliknya? Ini tidak lain karena mereka secara konsisten, terus menerus berkomitmen untuk melayani.

Monday, March 15, 2010

Mengapa Indonesia Waters?

About This Blog

Pernahkah Anda berada di suatu tempat, di mana jika Anda melihat ke depan, ke belakang, ke kiri dan ke kanan, bahkan ke  sekeliling Anda, yang terlihat adalah air dan hanya air? Sepanjang mata memandang hingga jauh ke batas ufuk sana...hanya permukaan air yang (tampak) berbatasan dengan kaki langit? Ya,  itulah laut dan samudera. 

Dari titik manapun Anda berada sekarang, kemudian Anda bergerak sembarang arah,  maka pada akhirnya Anda hanya akan tiba di laut. Lautan inilah yang justru jauh lebih luas, lebih besar dari pada tanah tempat kita berpijak sekarang. Dan wilayah yang maha luas itu, masih menyimpan misteri untuk disingkap dan dieksplorasi secara optimal bagi kesejahteraan kita.