![]() |
| Mengunjungi Kuil Sam Po Kong, Semarang, (November 2016) dengan latar belakang patung Kaisar Cheng Ho. |
Suatu siang di bulan Agustus 2014 yang lalu, saya berkesempatan minum kopi dengan seorang Pelaut gaek di lantai 2 gedung BCP, Bekasi yang agak bising namun lumayan nyaman untuk menikmati sepotong view kota Bekasi.
Setelah berbincang hampir 2 jam dengan Capt Gita Ardjakusumah, mantan Nakhoda Phinisi Nusantara 1986 Vancouver Expo- Canada itu, kami pun berpisah. Malamnya di kantor sebuah koran, saya tulis sebuah tajuk dengan judul "Kabinet Baru
Butuh Menteri Maritim Sekelas Laksamana Cheng Ho". Berikut tajuk lama itu, saya upload kembali untuk Anda.
SETELAH Komisi
Pemilihan Umum (KPU) mengumunkan hasil rekaputilasi PILPRES 2014, Selasa malam, 22 Juli 2014, kubu
Jokowi-Jusuf Kalla langsung mendeklarasikan kemenangannya di atas kapal tradisional
phinisi di pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara.
![]() |
| Dermaga Ujung Surabaya (foto:shelter) |
Apakah locus delicti deklarasi di atas kapal phinisi "Hati Buana Setia" itu,
suatu kebetulan atau memang sudah dirancang?
Benarkah ada hubungannya dengan komitmen Jokowi untuk mengembalikan kejayaan laut Indonesia, Pilihan kapal phinisi sebagai simbol budaya laut, juga mengindikasikan pembangunan kawasan Indonesia timur dan penguatan kembali akar kebangsaan kita.
Benarkah ada hubungannya dengan komitmen Jokowi untuk mengembalikan kejayaan laut Indonesia, Pilihan kapal phinisi sebagai simbol budaya laut, juga mengindikasikan pembangunan kawasan Indonesia timur dan penguatan kembali akar kebangsaan kita.
Apapun
alasannya, yang jelas, di bawah kepemimpinan Jokowi-JK ke depan, Indonesia akan menerapkan pembangunan
berwawasan Maritim. Dan Jokowi-JK bertindak sebagai Nakhoda Agung yang akan melayarkan biduk besar bernama Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ibarat sebuah kapal, bagaimanapun besarnya NKRI Nusantara hanya akan menyisakan ruang akomodasi yang kecil bagi para awak kapalnya, karena sebagian besar ruangan akan dipakai untuk dipenuhi muatan atau penumpang.
Ibarat sebuah kapal, bagaimanapun besarnya NKRI Nusantara hanya akan menyisakan ruang akomodasi yang kecil bagi para awak kapalnya, karena sebagian besar ruangan akan dipakai untuk dipenuhi muatan atau penumpang.





.jpg)
