Selasa, November 17, 2015

Pendonor Jenazah Itu, Telah Tiada

Yefigarata S. Graputin,











Nama aslinya: Maulana Patarani (63) tetapi lebih dikenal dengan Yefigarata S. Graputin,  Perawakannya kerempeng, rambutnya yang berwarna jagung dibiarkan panjang.Penampilannya lusuh dan cuek. Tetapi dia selalu tampak tersenyum dan senang bercanda.

Jebolan Sekolah Tinggi Filsafat Drijarkara ini juga senang menulis puisi. Selera humornya tak pernah kering...selalu saja ada bahan cerita yang tak lain berisi tentang  kemelaratan dan kesusahan hidup yang diejeknya dengan ringan dan santai, nyaris tanpa beban.

Seniman dan sekaligus mantan Wartawan ini, Kamis (12/11/2015), sekitar pukul 11.00 siang, ditemukan tengah merintih di sebuah kamar yang sempit di bilangan Kampung Bahagia, Babelan, Bekasi Utara.

Mulyono, pemilik rumah, yang sudah seperti saudaranya itu, segera menemuinya dibantu Hapsah, istrinya, mereka berdua bersusah payah berusaha mengeluarkan Yefi, panggilan akrabnya dari kamar sempit itu dan  segera mencari pertolongan.

Di tengah perjalanan ke Rumah Sakit terdekat, Yefi ternyata sudah tiada. Mulyono memutuskan untuk balik kanan sebelum sampai Rumah Sakit. Tiba di rumah dia memanggil dokter untuk memastikan. Dan benar, Yefi dinyatakan sudah meninggal, itu sekitar pukul 12.00. Kontan para tetangga heboh. Pasalnya, tidak sedikit yang melihatnya dalam keadaan sehat, bahkan sempat bercanda seperti kebiasaannya, tak luput dirasakan para tetangga sekitar.


Dua belas hari sebelum ajal menjemputnya, di hari Sabtu, saya sempat bersepeda (gowes) ke kawasan Babelan untuk menemuinya, ketika itu ia tampak sibuk berbenah-benah kamar yang sekaligus ruang kerjanya.dan ia tampak segar bugar (lihat: foto).

Melihat kesibukannya, saya tertarik. Lalu mengeluarkan handphone, untuk menjepretnya, empat kali. Padahal, tak biasanya saya menjepret dia. Kami sempat becanda, karena ia tampak senang menemukan plakat Adinegoro, yang teronggok begitu saja selama puluhan tahun. Dan sebelum pamitan, ia sempat juga meledek agar meninggalkannya sebungkus rokok yang ada di kantong saya, sambil berkelakar. Rupanya, itu menjadi pertemuan terakhir kami.

Yefigarata S. Graputin adalah nama rekaan diambil dari Garata (Keluarga Pencinta Alam), S (Sakata, gerakan dalam olah raga bela diri Karate, yang sempat disukainya) dan Graputin (diambil dari istilah Grafitti karena kesenangannya mencoret-coret dan menulis).

Berpuluh tahun saya hanya mengenal nama samarannya, dan baru tahu nama aslinya Maulana Patarani, justru dari anak tertuanya (Ferry), Yefi meninggalkan 4 orang anak (Ferry, Riri,Lita dan Tika), dari seorang istri yang kemudian mereka bercerai.

Semula mereka tinggal di kawasan Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, setelah berpisah dari istrinya, ia kost di bilangan Cawang kemudian menyingkir ke perkampungan di Bekasi. Kesibukannya, hanya dihabiskan untuk menulis buku. Tetapi ia sesekali menjadi tukang atau kuli  bangunan jika 'persediannya' sudah berada di Titik Nol (istilah yang sering dia katakan) atau kerja serabutan, sekadar untuk bisa bertahan menyelesaikan bukunya. Uang yang dia peroleh dari kerja serabutan, disebutnya sebagai 'modal diam'.

Menurut Hapsah, istri Mulyono, almarhum meninggalkan 6 naskah buku, yang tidak sempat diselesaikan. Bukunya berkisar hasil kontemplasi dirinya tentang Tuhan, yang dia rangkum dalam judul besar: "Perjalanan Mencari dan Menemukan Tuhan".

Naskah ini terinspirasi ketika beberapa tahun sebelumnya, ia harus menemani dan merawat Ibunya di Jatibening, hingga Ibunya meninggal dunia. Saya kagum dengan ketelatenannya merawat Ibunya, orang yang paling berjasa sepanjang hidupnya meski dalam keadaan serba sulit karena secara formal ia tidak bekerja.

Lelaki kelahiran Banjarmasin 15 Agustus 1952 itu,  sosok pribadi tangguh. Meski didera kemiskinan tetapi tak pernah terdengar ia mengeluh. Kemiskinan yang akrab menemani sepanjang hidupnya, seringkali menjadi mesiu alias bahan guyonan  untuk mengejek dirinya sendiri.

Sepanjang kariernya sebagai Wartawan, ia pernah meraih penghargaan Adinegoro, sebuah penghargaan tertinggi karya Jurnalistik untuk bidang fotografi human interest, yang berjudul "Dari dan Untuk Si Miskin" ketika ia menangkap moment seorang tukang becak yang sedang memberi uang recehan kepada seorang pengemis jalanan.

Yefi terakhir menjabat Redaktur Budaya di Mingguan Mutiara, menggantikan budayawan Leon Agusta. Koran mingguan yang merupakan tabloid pertama di Indonesia itu, akhirnya ditutup bertepatan dengan krisis moneter 1998, tidak jauh berselang ketika Soeharto yang telah berkuasa selama 30 tahun di republik ini,  lengser keprabon alias mengundurkan diri.

Pendiri tabloid itu, HG. Rorimpandey (alm) adalah tokoh pers Indonesia kawakan, yang juga perintis Koran sore pertama di Indonesia:  Harian Umum Sinar Harapan, tak lain adalah kawan seperjuangan Jacob Oetama, mantan PU Harian Kompas. 

Dalam kesehariannya, sosok almarhum Yefi senantiasa menularkan canda hangat kepada orang-orang di sekitarnya, meski isinya tak lain paradoks satir. Namun terdengar oleh lawan bicaranya sebagai celetukan yang mengundang tawa.

Yefi ...has a great soul. Ia bisa memahami perbedaan yang paling ekstrem sekalipun. Malah selalu siap mendengar umpatan, makian, bahkan sekadar ocehan orang lain dengan rileks. Jenis manusia langka diantara teman yang pernah saya miliki.

Tidak hanya dalam pemikirannya yang terkadang nyeleneh cenderung 'gila' tetapi juga dalam perbuatan dan kata kata. Dan itu konsisten dalam tindakannya, seperti ketika tiba-tiba ia datang menemui saya untuk menyerahkan 'Surat Pernyataan' yang ia buat sehari sebelumnya.

Surat yang ditulis tangan itu, tak lain berisi tentang niat atau keinginannya untuk mendonorkan jenazah dirinya, jika suatu saat ia meninggal (baca juga: Pendonor Jenazah Dari Bekasi: "Silahkan Bongkar dan Dipotong-potong Mayat Saya'' Ia ingin hidupnya berguna, bagi pengembangan riset dan ilmu pengetahuan, juga berguna bagi kemanusiaan. Begitulah niatnya mendonorkan jenazah dirinya.  Inilah salah satu bentuk 'kegilaan' yang mungkin tidak pernah terdengar di belahan bumi manapun.

Sayangnya, Majelis Ulama Indonesia--yang dimintakan fatwanya--tidak merespon. Demikian halnya, FKUI RSCM yang konon akan membentuk Tim untuk menindaklanjuti permintaan itu, tak kunjung datang, hingga ia meninggal dunia. Akhirnya, Yefi pun dimakamkan di TPU Kemiri, Rawamangun selepas shalat Jumat (13/11/2015).

Maut memang rahasia sang Pencipta. Jika sudah tiba waktunya menjemput manusia, tak ada yang bisa menahannya barang sedetikpun. Selamat jalan Sang angin -- yang ada tapi tiada, yang tiada tetapi ada-- begitu ia menyebut dirinya. Pendonorj enazah satu-satunya di muka bumi itu, kini benar-benar telah pergi untuk berjumpa dengan Dia yang selama ini dicarinya. Selamat jalan bung Yefigarata S. Graputin.... Innalilahi wainnailaihi rojiun.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Semoga kebaikan beserta alam raya atas jasa Om Semy kepada Sang Angin

Anonim mengatakan...

Semoga Alloh memberikan tempat terbaik untukmu Bung Yefi.