Jumat, Mei 20, 2011

Tindakan Luar Biasa, Hanyalah Kewajiban Biasa

(Bagian kedua: Saatnya, Menempa Calon Pemimpin Bangsa di Laut)


Membawa sebuah kapal dengan aman adalah pekerjaan yang cukup berat.  Tidak semua pelaut bisa menjadi nakhoda, disini tumbuh rasa tahu diri: biarlah kita menyingkir ke pinggir untuk memberikan jalan kepada teman yang lebih mampu untuk maju ke depan.....     

Kapal Latih KRI Dewa Ruci
Berpuluh tahun silam, kami merasakan sendiri saat bersama sekumpulan anak muda dijejalkan di Kapal Dewa Ruci yang terasa begitu sumpek dan pengap. Mereka ditempa dengan disiplin tinggi. Tidak lagi mempersoalkan siapa orang Jawa, Madura, Ambon, Sunda, Aceh, Manado ataupun si Padang yang Muslim, si Bali yang Hindu dan si Timor yang Khatolik. Di tengah deburan ombak yang menggunung semua digodok untuk berbagi rasa, berbagi kasih sayang bersatu padu untuk tetap mengibarkan Sang Saka Merah Putih setinggi mungkin di puncak tiang utama.

Beberapa kisah pelayaran bersejarah yang dilakukan para pelaut Indonesia, menjadi inspirasi berharga. Lihatlah mereka: 
  • Pada tahun 1964 KRI Dewa Ruci dengan komandan Letkol Hari Sumantri berlayar selama 274 hari mengelilingi dunia.
  • Pada 1986, Phinisi Nusantara menerjang ombak Pasifik untuk bisa hadir di Vancouver, Kanada turut berpartisipasi memeriahkan World Expo’86. Sebuah bukti bahwa dongeng dan legenda tentang perahu phinisi yang dapat berlayar ke Madagaskar dan tempat-tempat yang jauh lainnya bukanlah isapan jempol semata.
  • Pada 1996 KRI Arung Samudera dengan komandan Mayor Laut Darwanto membawa Sang Merah Putih mengendarai puncak-puncak gelombang Tujuh Samudera mengunjungi pantai-pantai di 5 Benua!
  • Pada 1999, KRI Dewa Ruci membelah Samudera Pasifik dan merapat di dermaga San Fransisco.
  • Serta di  bulan  Maret 2000 Dewa Ruci kembali melanglang buana merapat di pantai Timur Amerika Serikat dalam rangka mengikuti Sail Boston 2000.
Tanpa dukungan kekompakan tim kerja, disiplin yang tinggi, pengetahuan kelautan yang mumpuni, serta semangat juang dan rasa percaya diri, tidak mungkin berbagai kisah itu akan terwujud. Namun, itu hanyalah sebagian kecil dari cerita kepiawaian di lautan.

Sebenarnya kisah semacam itu sejak zaman baheula sampai sekarang ini, terus terjadi setiap hari di atas geladak perahu Bugis dan Buton, nelayan Melayu, Tegal, Madura, Banjar, Maluku, Papua, Lembata, Bali dan lain sebagainya. Alangkah sayangnya jika semua kisah dan kejadian tersebut hanya berlalu begitu saja.

Meminjam ungkapan Marinir AS ‘’ the uncommon valor is a common virtue’’ keberhasilan dan keberanian luar biasa yang ditorehkan para pelaut kita, sesungguhnya hanyalah suatu kewajiban biasa. Oleh sebab itu, pengabdian kepada tanah air, tidak akan pernah berhenti dengan suatu penghargaan, karena memang sesungguhnya bukan hal itu yang terpenting.

Bertolak dari gagasan,  pemikiran, pengalaman serta kenyataan tersebut, kita menyadari perlunya membina jiwa juang dan jiwa kepemimpinan bagi para pemuda. Terutama para remaja dalam mempersiapkan dirinya menghadapi tantangan millenium baru yang terbentang di hadapan mata. Karena tidak ada yang lebih berat dari pada mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh, yang bermutu dan bermoral demi mengisi kemerdekaan: mengembalikan kejayaan tanah air.

Kita ingin mengajak para pemuda untuk bergabung dan merasakan semua yang telah digambarkan itu. Petualangan dan keberanian, kepemimpinan dan kerjasama, kesenangan dan tantangan, semua itu adalah hal-hal yang biasa di atas geladak kapal layar. Semuanya akan bermuara pada sebuah pembentukan karakter yang berani, tangguh tetapi tetap bersahaja. Tidak egois dan tidak bermental korup. Suatu watak kepemimpinan yang teramat diperlukan bagi bangsa Indonesia yang menghuni sebuah kepulauan terbesar di dunia ini.

Karena itu, mari menoleh sejenak, melihat ke luar dari batas-batas daratan yang terasa semakin sempit ini. Lihat keluar! Ayo beranikan diri menginjakkan kaki ke dasar laut. Pergilah pula sejauh mungkin, ekspedisi melanglang jagat melalui laut! Disana ada kekuatan rahasia untuk menjadi bangsa yang besar, yang menanti kita menemukannya!   Ada sebuah ungkapan yang  menggambarkan pentingnya para remaja generasi penerus calon pemimpin bangsa ini untuk lebih mengenal laut sebab: When the boys goes to the sea, they will back as real men! 

Tidak ada komentar: