Minggu, Mei 01, 2011

Bagaimana Mulai Menulis?

Bagaimana mulai menulis? Dan apa kaitan antara menulis dengan membaca? Apa yang menyebabkan kita sering lupa dari apa yang kita baca? Mengapa kita hanya ingin membaca apa yang kita sukai saja?  

Sobat, inilah pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan oleh mereka yang sedang belajar menulis. Kali ini, saya ingin menjawabnya dengan cara yang berbeda. 

Mulailah menulis ketika kita ingin menulis! Sebaliknya,  tidak usah menulis ketika Anda sedang lelah. Saya sering membaca di beberapa blog tentang tips menulis, disebutkan bahwa kita bisa menulis dalam keadaan apa saja. Mau tidur, sedang marah, sedang mengalami kelelahan, dan lain sebagainya. 

Namun, tentu saja kita juga harus realistis dengan satu hal, bahwa sesuatu keadaan (fisik dan kejiwaan) seseorang akan mempengaruhi tulisan yang dihasilkannya. Jika kita sedang lelah, sebaiknya tidak usah dipaksakan, karena menulis dalam keadaan lelah hanya akan menghasilkan tulisan yang melelahkan untuk dibaca.

Jadi, jelas sekali sangat erat kaitan antara aktivitas menulis dengan kondisi internal fisik dan jiwa seseorang. Bagai ikan dan air. Agak berbeda dengan kondisi eksternal atau situasi yang berada di luar jangkauan Anda untuk mengendalikannya. Seperti ketika Anda sedang dalam antrian kemacetan lalu lintas (tentunya jika Anda hanya sebagai penumpang bukan mengendarai kendaraan), faktor waktu --yang bagi sebagian orang itu menjemukan dan menjengkelkan-- bisa dimanfaatkan untuk menulis. 

Perlu Situasi dan Kondisi khusus untuk Menulis?
Selain kondisi internal fisik dan psikis seseorang, bagi sebagian orang masih masih diperlukan persyaratan yang lain, untuk bisa menghasilkan tulisan. Seperti suasana yang tenang, tentram dan nyaman. Tetapi ini tidak mutlak, karena ada pula orang-orang yang tetap bisa produktif menulis meskipun berada di lingkungan yang ramai ditingkahi dengan suara bising, seperti di sebuah pabrik atau berada dalam suasana hiruk-pikuk seperti di pasar.

Yang ingin saya tekankan di sini bahwa, kita baru bisa menulis dengan baik jika dalam situasi dan kondisi internal, yang kita anggap paling memungkinkan. Dan kondisi fisik dan kejiwaan Anda, hanya Anda sendirilah yang bisa mengendalikannya. Kondisi (eksternal) yang relatif adalah yang berada di luar kemampuan Anda untuk mengendalikannya.

Bagaimana mulai menulis? Saran pertama, tuliskan saja apa yang ada dan terlintas di dalam pikiran kita secara spontan. Jika masih sulit, cobalah munculkan sesuatu di atas kertas atau di layar komputer Anda. Kemudian apa yang bisa Anda pikirkan selanjutnya dari kata itu, akan muncul dengan sendirinya. Dan tuliskanlah itu. 

Pada dasarnya, sebuah kata tidak berarti apa-apa sebelum dia dirajut, digabung, atau dirangkaikan dengan kata-kata yang lain. Perhatikan sebuah kata yang Anda tuliskan di layar komputer! Kembangkan imajinasi Anda sekuat mungkin terhadap satu kata tersebut! Maka mulailah Anda berselancar di ruang imajinasi yang luas tak berbatas! Ruang imajinasi bisa dimulai ketika Anda memikirkan (atau spontan tanpa memikirkannya tiba-tiba saja Anda ingin mengetik sebuah HURUF. Bermula dari sebuah huruf, kemudian huruf berubah menjadi suku kata, kemudian berubah menjadi sebuah kata, kemudian berubah lagi menjadi sebuah kalimat, kemudian kalimat itu ditambah lagi menjadi sebuah alinea, kemudian alinea-alinea tersusun menjadi sebuah tulisan yang lengkap! Maka selesailah sebuah tulisan.

Jika di tengah jalan, Anda merasa mandeg, tentang apa yang harus Anda tuliskan: cobalah pikirkan tentang kesukaan, hobi atau minat Anda. jawablah pertanyaan sederhana berikut: Apa sebenarnya yang paling Anda sukai melakukan sesuatu? Apakan Anda senang bepergian, berbisnis, berdagang, berbelanja, memasak, bermain musik, memetik gitar, berolah raga, menyanyi, memanjat tebing, dan lain-lain dan seterusnya. Pertanyaan selanjutnya, mengapa Anda menyukainya? Adakah alasan-alasan yang bisa Anda sebutkan? Tidak perlu Anda memaksakan diri menjadi seorang yang rasional untuk menjawabnya. Yang terpenting, katakan saja sejujurnya. 

Banyak pembaca yang sangat senang dengan kejujuran dari penulisnya, meskipun seringkali terdengar asing, nyeleneh, bahkan nakal dan liar. Semakin liar dan gila sebuah gagasan, semakin disukai pembaca sepanjang gagasan tersebut berada dalam kerangka pikiran dan imajinasi manusia. Juga penting dicatat bahwa seorang penulis yang baik, hendaknya berusaha untuk mengungkapkan apa yang ia pikirkan dengan sejujurnya. Kebanyakan pembaca tidak atau kurang menyukai tulisan yang sulit dimengerti seakan-akan penulisnya ingin memamerkan sejumlah istilah ilmiah atau kosa kata akademik yang mungkin baru saja ia pungut dari beberapa buku teks kemudian ia 'muntahkan' kembali kepada pembacanya, untuk memberi kesan bahwa penulis ini adalah seorang yang berpendidikan atau berwawasan luas. Ingat, tujuan Anda menulis bukan untuk membanggakan diri, tetapi untuk 'memindahkan' isi kepala  Anda ke layar komputer sehingga selanjutnya Anda bisa berbagi dengan sejumlah orang di seluruh penjuru dunia.    

Kembali ke soal materiu tulisan. Apa selanjutnya gagasan yang akan Anda tuliskan? Setelah Anda tahu apa hobby atau kesukaan Anda, selanjutnya tuliskanlah bagaimana cara Anda melakukan apa yang Anda sukai tersebut? Mengapa Anda pikir orang lain perlu mengetahuinya? Apa kira-kira manfaat yang bisa orang lain dapatkan dari kegiatan yang Anda sukai tersebut? Maka, selanjutnya akan muncul begitu banyak materi yang bisa Anda ungkapkan.  

Para penulis akademik, seringkali mulai menulis dengan membuat kerangka tulisan (out line) terlebih dulu. Kerangka tulisan sangat membantu dalam merekonstruksi sesuatu yang hendak kita tuliskan berdasarkan apa yang kita pikirkan. Ia ibarat peta jalan yang menuntun Anda kepada tujuan akhir yang Anda inginkan. 

Jika Anda menulis untuk tujuan personal (non akademik), ada cara praktis yang sering dilakukan seseorang yang baru belajar menulis. Cobalah sesekali menulis Jurnal atau catatan harian pribadi. Jika belum terbiasa menulis jurnal atau catatan harian, maka sebaiknya buatlah catatan itu, mulai sekarang! Dan lakukan setiap hari. 

Ada orang yang biasa menulis catatan pada malam hari menjelang tidur. Dengan demikian, ia bisa mulai menuliskan apa saja yang dia lakukan mulai pada awal hari (pagi-pagi) hingga menjelang hari itu berakhir.  Demikian sebaliknya, ada yang mulai pagi hari setelah tidur nyenyak semalam sehingga ia pergunakan pikiran yang masih segar untuk menulis. Juga ada yang senang menulis pada siang atau sore hari karena waktu itulah yang ia anggap paling nyaman di sela-sela kesibukan bekerja. Kesimpulannya, waktu yang tepat untuk menulis, ya bisa kapan saja. Semau dan sesuka Anda.  

Apa yang harus dituliskan? Soal ini pun sepenuhnya terserah Anda, karena Anda lah sutradaranya. Tetapi bagi mereka yang belum terbiasa menulis, saran praktis saya adalah: tuliskanlah apa yang ingin Anda katakan. 


Anda akan merasakan, ada perbedaan kondisi pikiran (state of mind) yang Anda rasakan ketika Anda hendak menulis dibandingkan dengan berbicara. Saya percaya, Anda akan merasakan semacam rekontruksi imajiner di dalam pikiran kita sebelum menuliskan sesuatu. 


Kembali ke topik semula, tentang materi apa yang hendak Anda tuliskan? Tips mudah saya untuk membiasakan menulis, cobalah tuliskan kebiasaan Anda. Misalnya mengenai  pemasukan dan pengeluaran belanja harian. Ini akan sangat membantu merekonstruksikan perilaku konsumsi kita. Dan tentunya membantu ‘kelancaran’ menulis. Tentu saja bukan hanya jurnal yang berisi catatan angka-angka  ‘pemasukan’ dan ‘pengeluaran’  saja, tetapi juga tentang: dari mana ‘dana’ itu datangnya? Dan kemana saja mereka perginya?

Pertanyaan penting lainnya, dengan cara bagaimana dana itu bisa datang? Mengapa dia lekas sekali perginya dari tangan kita? Seperti  tidak betah berlama-lama dalam genggaman kita. Mengapa dana yang masuk itu seolah hanya ‘numpang lewat’ saja di rekening kita? Apa usaha kita supaya mereka mau ‘menginap’ lebih lama di rekening kita? Apa saja upaya yang bisa ditempuh supaya mereka ‘beranak-pinak’ di akun bank kita? 


Ini sekedar contoh saja, bagaimana kita nantinya bisa menganalisis tentang usaha pribadi, perilaku konsumsi dan proyeksi keuangan kita ke depan. Maka, sudah cukuplah itu menjadi bahan sebuah tulisan pribadi, yang mungkin berguna juga bagi orang lain. Bagi mereka yang belum pernah mencobanya, bisa jadi nanti dia akan terheran-heran atau malah merasa kaget sendiri, ketika semua analisis  itu benar-benar muncul di atas kertas atau di sebuah file komputer. Anda seakan memandang perilaku diri sendiri, yang cantik atau tampan tetapi bisa juga sebaliknya: wajah yang cemberut, kusut masai!     

Begitu pula dengan Catatan Harian atau diary. Catatan harian, tentu saja bisa ‘merekam’ apa saja yang kita alami dan kita pikirkan, kita rasakan di hari itu. Bisa tentang kegundahan, kekesalan atau kemarahan. Bisa juga sebaliknya: about something affection!  Namun,  tidak semua orang mau dan bisa menulis kualitatif jurnal seperti itu. Apalagi menulis catatan harian. 


Penyebab utamanya karena ‘kekuatan’ diary justru terletak pada subjektivitas dan kejujurannya! Dan tidak semua orang rela pikirannya tampak ‘telanjang’ di mata orang lain. Sekalipun itu pacar, suami atau istrinya sendiri. 


Tetapi jangan lupa, tulisan yang paling menarik, adalah tulisan yang dibuat dengan  sejujurnya, meskipun terkadang membuat kita tampak bodoh di mata pembaca. Hanya pembaca Anda akan maklum, bahkan bisa jadi setuju dengan Anda karena mereka tahu,  Anda sedang berusaha keluar dari kebodohan itu. Dan itulah yang membuat pembaca Anda setuju dan mungkin juga merasa senang dan terhibur!

1 komentar:

Muhammad Sabran mengatakan...

terimakasih tipsnya sangat membantu buatku