Senin, Mei 18, 2009

Kisah Penyelamatan Pengungsi Vietnam Oleh Nakhoda Indonesia


Alur Perjalanan Laut
Pengungsi Vietnam
Kisah penyelamatan pengungsi Vietnam ini, ditulis berdasarkan pengalaman Captain Gita Arjakusuma, ketika dia bertugas sebagai Nahkoda kapal MV Andhika Tarunaga milik perusahaan pelayaran Nasional di Jakarta. Peristiwa ini terjadi pada medio Juli 1981 di samudera Pasifik, sekitar 200 mil dari Laut Cina Selatan. 


Para pengungsi Vietnam, ketika itu masih muda belia. Bahkan ada yang masih bayi. Kini mereka  menetap dan hidup sejahtera di Australia. Beberapa diantaranya bahkan telah menjadi pengusaha sukses. 

SETELAH jatuhnya Saigon (Ho Chi Minh City) pada musim panas tahun 1975, ratusan ribu orang Vietnam mulai berhamburan meninggalkan negeri itu menggunakan sampan dan kapal-kapal kayu kecil. Tanpa menghiraukan keselamatan, mereka menyeberangi Laut Cina Selatan. Sebagian lainnnya, berupaya menyelamatkan diri dengan berjalan kaki ratusan kilometer melintasi perbatasan darat.

Sampul Majalah Time
Edisi 13 April 1981:
"Moment of Madness"
Sementara sebagian lainnya mengalami berbagai bentuk penderitaan. Seperti perlakuan tidak manusiawi dari para perompak dan bajak laut, ada pula yang harus menghadapi gelombang dan badai gila, sebagian lagi harus menderita karena penyakit dan kelaparan. Itulah gambaran para pengungsi Vietnam sebagaimana dilukiskan dalam Vietnamese Boatpeople Connection – The True Stories.

Sementara Dr. Kenneth Wilson, setelah menyelesaikan suatu missi on board Seaweep sebagaimana terungkap dalam World Vision International, dengan jernih melukiskan suasana batin para pengungsi Vietnam, seperti berikut:

Dengan daya tahan dan ketabahan luar biasa, mereka menempuh risiko dan bahaya yang sulit dibayangkan, demi menyelamatkan diri dan mencari kebebasan. Diperkirakan lebih dari sepertiga diantaranya, akhirnya menemui ajalnya di laut. 

‘’Being a refugee is being a name and a number on lists. It is being in a mass of people shuffled from one point to another, not knowing what you have to do next or where you are going. It is being a child fearful you will be separated from your parents. It is being an elderly woman too weak to walk without help, but not too weak to smile luminously at a small act of kindness. It is having fight to believe that wherever you go will be better than where you have been. When you are a refugee, hope is the last thing you dare let go.’’

Itulah pula yang kami saksikan pada pelayaran dengan kapal MV. Andhika Tarunaga, pada tanggal 28 Juni 1981. Saat itu, kami tengah membawa muatan kayu rotan dalam perjalanan dari pelabuhan terakhir Miri/Sarawak menuju ke pelabuhan bongkar di Hongkong. Di sekitar gugusan karang sebelah barat pulau Palawan, Filipina, kami menyaksikan sebuah perahu yang nyaris tenggelam, dengan penumpang sebanyak 40 jiwa, terdiri atas: 19 laki-laki, 9 perempuan dan 12 anak-anak dalam keadaan yang mengenaskan.

Pemandangan Tragis Di Laut
Dini hari, tanggal 29 Juni 1981, sekitar pukul 03.30, saya bangun dan langsung naik ke anjungan. Bersama Mualim II, kami beranjak ke buritan untuk mengecek apakah perahu yang kami tunda (tarik) sejak kejadian tadi malam, masih tampak atau tidak. Ketika itu, cuaca sangat gelap, karena memang sekitar 200 mil di belakang kami atau sebelah timur Hongkong yaitu Laut Cina Selatan, baru saja dilanda badai tropis.

Cukup lama kami mengamati keadaan sekeliling. Memang sudah tak tampak lagi perahu itu. Kami coba menelusuri tali tross, yang menghubungkan kapal kami dengan perahu kayu itu, tampak hanya tinggal tiang lingginya saja yang masih terapung-apung. Kami berkesimpulan, perahu itu memang sudah sangat rapuh. Sebab ketika kami tarik dengan kecepatan sekitar 10 knot, ia sudah tidak bisa bertahan lagi. Dan kini, mungkin sudah berantakan disapu gelombang!

MV. Andhika Tarunaga
(marine traffic.com)
Menjelang matahari mulai terbit. Terjadi kesibukan di anjungan. Mualim I diinstruksikan untuk segera menentukan posisi kapal, diperkirakan masih sehari lagi pelayaran sebelum mencapai pelabuhan Hongkong.

Markonis segera mengirim berita telegram kepada Agen di Hongkong, yang melaporkan bahwa kami dengan sangat terpaksa dan tidak dapat dihindari lagi, mengangkat sebanyak 40 pengungsi Vietnam untuk dibawa ke Hongkong. Kemudian, kami juga mengirim telegram ke radio pantai stasiun Hongkong, yang melaporkan bahwa kami membawa sekelompok pengungsi Vietnam yang kami dapati dalam keadaan terapung-apung, di sekitar gugusan kepulauan Palawan sebelah barat Filipina.

Bagaimanapun, kejadian kemarin malam sungguh sangat mencekam. Ketika itu, menjelang shalat Isya, kami naik ke anjungan. Dari kejauhan kami mengamati sebuah noktah hitam di depan lambung kiri kapal kami. Semakin dekat, tampak seperti sesuatu yang terbakar di tengah laut. Kami perintahkan Mualim III untuk terus mengawasinya dan kami segera memerintahkan Perwira Jaga maupun Kepala Kamar Mesin (KKM) untuk mengubah haluan kapal mendekati noktah, yang makin lama-makin jelas terlihat seperti sebuah kapal yang sedang meminta pertolongan karena kondisi kapal tersebut terbakar.

kapal kayu yang
penuh sesak manusia perahu
Setengah jam kemudian, segalanya menjadi semakin jelas. Kami mendapatkan sebuah kapal kayu berukuran panjang sekitar 7,5 meter dan lebar 2,5 m. Buritan kapal dalam keadaan tenggelam sedangkan anjungannya terbakar. 

Sementara di dalamnya, terdapat puluhan pengungsi Vietnam yang dikenal sebagai the boat people, manusia perahu. Kami dekati lagi hingga kapal merapat. Ternyata kobaran api itu memang berasal dari sebuah wajan besar yang diletakan di anjungan dan di atasnya ditaruh sebuah dandang yang terbakar, sehingga dari kejauhan tampak seolah-olah seluruh kapal itu sedang terbakar.

Kami segera membunyikan alarm supaya semua awak kapal bangun dan bersiap-siap menghadapi situasi yang tentunya tidak diharapkan itu. Sementara kami bersiap-siap, perahu yang dijejali puluhan penumpang itu telah bersandar di lambung kiri kapal kami.

Pemandangan sungguh sangat tragis. Pada jarak hanya beberapa meter saja, kami lihat
perahu itu berpenumpang kira-kira 40 orang, terdiri dari 21 wanita dan anak-anak di bawah umur, selebihnya adalah laki-laki berusia antara 40-50 tahun. 


Tampak anak-anak kecil bertelanjang dada, bergeletakan di atas geladak. Beberapa perempuan terlihat mengacung-acungkan tangan sambil menangis meminta pertolongan, agar diperbolehkan naik ke kapal kami. Mereka terus berteriak-teriak. Sementara kami semua sudah berdiri di pinggir lambung kiri kapal, namun saya perintahkan supaya tangga-tangga segera ditutup, mencegah mereka naik. Sebab, dikhawatirkan pula kemungkinan mereka membawa senjata.

Kami pandangi mereka. Tampak seorang wanita, lagi-lagi mengacung-acungkan bayinya, berteriak-teriak sambil menangis histeris. Seolah-olah mengatakan, kalau seandainya mereka tidak ditolong, bayi itu akan dibuangnya ke laut!

Semua awak kapal berpikir dengan keras, apa yang harus kami lakukan? Sebagai nakhoda, saya menghadapi situasi yang sangat pelik. Saya tahu, dalam kondisi semacam ini terdapat dua peraturan yang saling bertentangan dengan hati nurani, namun saya dituntut untuk segera menentukan sikap dan memutuskan secara bijaksana, meskipun risikonya berat.

Kami panggil seluruh perwira untuk berkumpul kemudian saya perintahkan Motor Driver S. Karnomo dan seorang ABK lainnya untuk turun mengecek ke kapal mereka. Sepuluh menit kemudian, mereka sudah kembali dan melaporkan bahwa kondisi kapal memang sangat buruk. 
Manusia Perahu, Pengungsi Vietnam

Mesin sudah tidak dapat dijalankan, motor penggerak (Yanmar TS 60) dalam keadaan rusak, malah as baling-baling pun patah, di sana-sini terdapat kebocoran. Sementara itu, banyak orang dalam keadaan pingsan karena bahan makanan sudah tidak ada lagi. Laporan itu, saya terima dengan penuh rasa cemas. Meskipun saya bisa memahami, bahwa mungkin saja perahu itu sengaja dirusak sehingga tampaknya memang tidak ada jalan lain lagi, para penumpangnya harus kami selamatkan, keluar dari sana.

Dua Peraturan, Saling Bertentangan
Di tengah kebuntuan situasi, tiba-tiba seorang awak kapal datang kepada saya sambil berteriak-teriak, seolah memprotes kepada nakhoda agar jangan sampai pengungsi Vietnam itu diangkat ke kapal. Saya tenangkan dia, lalu semua awak kapal dikumpulkan. Saya katakan, sebagai nakhoda saya bertanggungjawab atas tindakan yang akan saya putuskan.

Memang dalam menghadapi situasi semacam ini, kami menghadapi dua peraturan yang saling bertentangan. Pertama, adalah peraturan Pangkopkamtib (Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan) yang ditujukan kepada semua nakhoda kapal, bahwa di dalam keadaan bagaimanapun juga, nakhoda dan awak kapal dilarang mengangkat pengungsi Vietnam ke atas kapal dan membawa mereka ke Indonesia.

Namun pada kenyataannya, kami menghadapi ketentuan internasional seperti tercantum di dalam Safety Of Life At Sea (SOLAS). Di mana salah satu chapter-nya yakni tentang safety navigation menyebutkan bahwa setiap nakhoda kapal, awak kapal, yang melihat suatu permintaan pertolongan dari kapal lain yang sedang mengalami musibah di tengah lautan, diwajibkan memberikan pertolongan meskipun kapal itu adalah musuh negara. Itulah ketentuan hukum internasional.
Pada kondisi demikian, kami seolah menghadapi situasi yang dilematis. Tetapi, bila kami melihat kembali keadaan para pengungsi Vietnam, yang saat itu berteriak-teriak dan menangis histeris, begitu juga anak-anak kecil yang bergeletakan di lantai geladak, saya sulit membayangkan jika hal demikian terjadi pada diri kita sendiri, atau pada anak-anak kita sendiri yang mungkin waktu itu masih bayi, keponakan-keponakan kita sendiri, sungguh hal ini akan terasa sangat memberatkan. Bahkan bisa membuat keguncangan jiwa pada diri kami masing-masing. Sebagai manusia normal, rasanya kita tidak akan merasa tenteram, membiarkan begitu saja orang-orang yang dalam keadaan terancam maut sementara kita mampu menolongnya.

Akhirnya, bulat sudah keputusan yang harus diambil. Saya panggil Perwira I, Kepala Kamar Mesin dan para anak buah kapal. Di hadapan mereka, dengan lantang saya katakan: ‘’Kita harus mengangkat para pengungsi itu ke atas kapal. Dan saya bertanggungjawab secara pribadi! Jadi, jangan khawatir kalian akan ikut menanggung risiko atas tindakan saya ini,’’

Persoalan pengungsi Vietnam ini sudah menyangkut masalah keselamatan jiwa manusia. Jadi, meskipun bertentangan dengan peraturan Pemerintah, kami dengan sadar terpaksa mengabaikannya semata demi alasan kemanusiaan. Sedang para pengungsi itu, meskipun kita tidak mengenalnya, tetapi sebenarnya mereka adalah manusia seperti kita, yang kebetulan pada saat ini sedang menderita dan sangat memerlukan pertolongan. Terlebih lagi, mereka pun tidak dapat dikategorikan sebagai musuh negara.


Tersentuh Hati

Setelah perintah diberikan, maka segera tangga kapal diturunkan. Kemudian saya perintahkan pula beberapa ABK membantu para pengungsi naik ke atas kapal Andhika Tarunaga.
Memang sungguh tragis. Begitu diangkat ke atas geladak, mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Satu-persatu berjatuhan dan terkulai lemah di geladak dalam keadaan pingsan. Setelah kami hitung seluruhnya, jumlah mereka sekitar 40 orang, dalam kondisi sangat lemah dan tak berdaya.
Beberapa anak kecil yang tampak bertelanjang bulat dan kondisinya sudah sangat lemah, terpaksa dibopong ke atas. Malahan, diantaranya kami lihat ada seorang bayi wanita yang masih merah, telanjang kedinginan tanpa dibalut sehelai benang pun. Kabarnya, bayi yang terus-menerus menangis itu, baru berumur dua bulan. Serta merta, bayi yang menggigil kedinginan itu, dibungkus dengan kain majun dan segera dibawa ke ruang salon perwira.
Memang sebelum mereka semua bisa diangkat, saya sudah perintahkan koki untuk menyiapkan makanan sekedarnya, seperti bubur, sebab kami pun tahu sudah cukup lama mereka menahan lapar karena tidak menemukan makanan yang layak. Menurut pengakuan mereka, sudah sekitar 9 hari mereka terapung-apung, tanpa makan dan minum sejak keberangkatan mereka tanggal 19 Juni 1981 dari pelabuhan Phun Khanh, Vietnam Selatan.

Saat itu, kami berada sekitar lima mil dari gugusan karang Palawan, Filipina. Tepatnya, pada posisi: sekitar 50 mil barat daya Scarborough Reef atau sekitar 150 mil pantai barat Luzon, atau sekitar 450 mil tenggara Hongkong, atau sekitar 470 mil pantai timur Vietnam. Dan kami baru saja meninggalkan pelabuhan Samarinda, dengan membawa muatan rotan menuju ke Hongkong. Sedang perjalanan ke Hongkong masih akan ditempuh dalam satu setengah hari lagi. Jadi, kami dapati mereka bukan di perairan Vietnam, tapi adalah jauh dari kepulauan sekitar Hainan, masih berada di dekat pantai Luzon.

Saya perintahkan supaya para pengungsi dipindahkan ke ruang salon ABK. Dan pada waktu itu, kami sampaikan kepada para ABK bahwa para pengungsi ini menempati ruangan ABK sebagai tempat penampungan. Dengan demikian, seluruh perwira dan ABK berkumpul menjadi satu di ruang makan, karena ruang makan tamtama dan bintara pun dipakai para pengungsi.
Saya bersyukur dan sangat berterima kasih, karena pada saat itu seluruh ABK benar-benar membantu, setulus-tulusnya. Beberapa orang segera memberikan selimut dan pakaian untuk menutupi dan menghangatkan badan mereka. Selanjutnya mereka menempati ruangan ABK. Pelayaran kami teruskan.

Itulah peristiwa yang terjadi pada malam kemarin. Dan sekarang, kami harus mengolahgerak kapal dan menarik tali tross kembali ke atas kapal, karena apabila tali yang dipakai menarik perahu tersebut sampai membelit propeler, hal itu bisa membahayakan.

Tiga jam kemudian kami menerima dua telegram sekaligus dari radio pantai di Hongkong, yang membatalkan berita sebelumnya yang menyebutkan bahwa kami telah diizinkan masuk di pelabuhan Hongkong untuk menambatkan kapal di bouy 6. Namun karena kami membawa para pengungsi Vietnam, yang memang sebelumnya tidak terdaftar di kapal, maka izin yang sudah diberikan itu dibatalkan.
Kami diperintahkan menuju ke areal karantina di sebelah selatan Wang Lang Island di perairan Hongkong. Kami pun segera memutar kemudi menuju ke sana. Dan pada pukul 05.30 pagi, kami sudah memasuki perairan Hongkong dan melaporkan kedatangan kami ke radio kontrol di Hongkong bahwa dalam beberapa jam lagi, kami akan berada di Quarantine Area.

Tiba di areal karantina, kami melempar sauh. Beberapa menit kemudian, tampak mendekat beberapa kapal yaitu kapal Patroli, kapal Imigrasi dan kapal Bea Cukai dari pemerintah Hongkong, yang pada waktu itu masih dalam protektorat Kerajaan Inggris.

Memang sebelum merapat, telah kami siapkan berita acara yang disusun oleh Mualim I, yang melaporkan secara lengkap tentang posisi kami ketika menemukan para pengungsi itu, dan mencatat waktu kami mengangkat mereka. Di antara para petugas Imigrasi dan Bea Cukai, juga hadir seorang Komisioner UNHCR (komisi PBB yang bertanggungjawab menangani masalah pengungsi).

Sebenarnya, di Hongkong sudah ada tempat penampungan bagi para pengungsi Vietnam yang memang pada sekitar tahun 1982 banyak berdatangan ke sana. Mereka berhamburan meninggalkan Vietnam sejak merebaknya perang Vietnam yang dimulai pada 1964, hingga jatuhnya Saigon ke tangan Pemerintah Komunis. Kenyataan itu, menyebabkan ratusan ribu penduduk yang merupakan pendukung Vietnam Selatan, maupun para bekas tentara Vietnam Selatan, berupaya menyelamatkan diri dengan berbagai cara meskipun harus menempuh berbagai resiko yang berat.

Selesai diperiksa dengan cermat oleh para petugas Imigrasi, seorang staf PBB datang menghampiri dan menjabat tangan saya. Ia mengatakan bahwa memang dua hari sebelumnya, pihak PBB pun telah mendengar berita tentang banyaknya pengungsi Vietnam yang terdampar di pantai barat Filipina. Karena itu, laporan kami dapat mereka terima dengan baik. Dikatakan pula, bahwa para pengungsi Vietnam yang kami bawa itu, bukanlah suatu rekayasa atau sebagai upaya mencari keuntungan, sebagaimana sering terjadi sebelumnya.

Memang tidak sedikit yang mengatakan bahwa para pengungsi Vietnam itu sebenarnya adalah orang-orang kaya. Mereka lari dari negaranya dengan membawa berkilo-kilo emas dan harta kekayaan yang dimilikinya, sehingga dengan adanya kejadian itu, bisa saja dijadikan kesempatan oleh para nakhoda-nakhoda kapal untuk berbisnis. Itulah yang menjadi pangkal pemikiran mereka, apakah kami juga bisa dikategorikan seperti itu? Namun setelah mereka mencek posisi sesuai dengan berita acara yang kami berikan, mereka pun percaya bahwa kami benar-benar menolong mereka dari ancaman maut.
Risiko Nakhoda Kapal

Komisioner PBB itu mengatakan bahwa ia merasa salut atas tindakan awak kapal Andhika Tarunaga, yang saya pimpin. Terlebih lagi, para awak kapal adalah orang-orang Indonesia. Ia mengatakan bahwa selama ini sebetulnya banyak para pengungsi Vietnam yang bertebaran di sekitar Laut Cina selatan, namun jarang sekali ada kapal-kapal Indonesia yang mau menolongnya. Dan mereka pun mengetahui adanya suatu peraturan dari Pemerintah Indonesia yang tidak mengizinkan nakhoda kapal mengangkat dan membawa para pengungsi Vietnam ke wilayah Indonesia.

Pada akhir pembicaraan kami, Komisioner PBB itu kembali menjabat tangan saya erat-erat sambil menyampaikan kekagumannya atas tindakan saya, yang menurut hukum internasional justru dibenarkan. Namun ia pun mengakui masalah pengungsi Vietnam ini, bisa menyulitkan semua pihak. Terutama bagi diri saya pribadi sebagai nakhoda kapal, karena meskipun secara internasional tindakan saya dibenarkan, tetapi risiko selanjutnya akan sangat tergantung pada sikap Pemerintah RI atau bahkan sikap dari perusahaan tempat saya bekerja, yaitu perusahaan pelayaran Andhika Lines.

Petugas Imigrasi datang menghampiri saya. Ia menyerahkan dokumen yang harus saya tandatangani. Di situ disebutkan nama kapal, nakhoda, jumlah pengungsi lengkap dengan nama-nama mereka. Saya pun diminta menandatangani pernyataan yang menyebutkan bahwa saya bertanggungjawab terhadap keberadaan para pengungsi Vietnam itu, jika mereka melarikan diri setibanya di Hongkong. Tak lupa, dicantumkan pula beberapa ancaman hukuman bagi seorang nakhoda kapal, apabila mereka melarikan diri dari kapal.

Setelah dua jam kami diperiksa, selanjutnya kami diperbolehkan mengangkat jangkar menuju pelabuhan Hongkong untuk mengikatkan kapal di buoy 16, tempat di mana kami akan membongkar muatan. Pukul 08.00 pagi, kami baru selesai mengikatkan buoy dengan rantai jangkar.

Selanjutnya, saya kumpulkan semua perwira, ABK dan juga kami kumpulkan para pengungsi Vietnam itu. Kami panggil salah seorang diantara mereka yang bisa berbahasa Inggris. Kemudian saya jelaskan kepada mereka bahwa saat itu kapal beserta para pengungsi sudah berada di perairan Hongkong dengan selamat.

Saya tunjukkan peta, di mana kami mengangkat mereka. Juga saya katakan bahwa seandainya mereka tidak kami angkat -- berdasarkan berita cuaca yang sudah kami terima bahwa tempat itu dilalui oleh badai tropis -- tentunya mereka semua sudah mati, karena siapa pun yang saat itu berada di laut dan berhadapan dengan badai tropis, ia tidak akan tertolong lagi. Jadi sekarang, dengan keberadaan mereka di atas kapal kami, nyawa mereka telah kami selamatkan.

Kami tidak meminta uang sepeser pun kepada mereka. Hanya permintaan saya, jangan sampai ada yang melarikan diri. Karena bila ada salah seorang saja yang melarikan diri, saya sebagai nakhoda diancam hukuman dua tahun penjara dengan denda sekitar 7.500 dolar AS.

‘’Saya tidak mempunyai uang untuk membayar denda tersebut, sehingga tentunya saya harus masuk penjara apabila kalian yang sudah saya tolong, justru melarikan diri,’’ kata saya. Ucapan saya itu diteruskan kepada para pengungsi melalui penerjemah.

Namun, tiba-tiba saja kami larut dalam suasana haru. Sebab begitu mereka mengerti apa yang telah saya sampaikan bahwa jiwa mereka telah diselamatkan dari badai topis, serta merta mereka membungkuk, menyembah, sebagai ungkapan terimakasih atas bantuan yang diberikan oleh seluruh awak kapal. Melalui penterjemah, mereka mengatakan bahwa mereka berjanji akan memenuhi permintaan saya dan tidak akan melanggar aturan yang telah disampaikan.

Saya menyadari, inilah suatu tindakan yang justru didasarkan kepada hati nurani. Naluri kemanusiaan yang lebih banyak berbicara. Selanjutnya, saya beserta beberapa perwira harus segera melaporkan kejadian ini kepada pimpinan Perwakilan Perusahaan kami di Hongkong. Kami pun meninggalkan kapal menuju ke kantor Agen. Turut pula beberapa ABK yang kebetulan memerlukan pengobatan. Peta dan laporan berita acara berikut daftar nama para pengungsi, kami bawa untuk dilaporkan.

Tiba di kantor Agen, kami bertemu dengan Bapak Prabowo, Manajer Pemasaran. Ia menyambut kami dengan ramah dan menjabat tangan saya. Ternyata ia telah mendengar berita tentang pengungsi Vietnam, yang kami angkat. Dan katanya, ia sudah tahu betul sifat saya dan karena itu dirinya bisa memahami keputusan dan tindakan saya. Ia berpendapat, tindakan kami adalah sesuatu yang memang perlu dilaksanakan demi menyelamatkan nyawa manusia. Namun, selanjutnya ia meminta saya menemui Manajer Operasi.’’Silahkan kamu berbicara dengan Manajer Operasi di sana,’’ katanya sambil menunjuk ke sebuah ruangan.

Kami menuju ke ruangan Manajer Operasi. Tetapi, tiba di sana kami justru disambut dengan teguran keras. Bahkan di depan beberapa bawahan saya, ia mencaci maki saya dengan sengit! Saya mencoba tetap bersikap tenang. Dan berusaha mencari kesempatan untuk menyampaikan alasan mengapa saya bertindak demikian. Dan akhirnya ia mengatakan: ‘’Oke, kita jangan saling menyalahkan. Tetapi perlu diketahui, seandainya saja ada dua nakhoda seperti kamu ini, perusahaan ini akan bangkrut!’’ katanya.

Sejenak saya tertegun, masih terheran-heran mendengar ucapannya. Sebab di mata dia, tindakan saya sungguh keliru dan sangat merugikan perusahaan. Ia mungkin benar. Karena menurut hitung-hitungan bisnis, tentu akan ada pengeluaran-pengeluaran dari pihak perusahaan. Masih terngiang ucapannya di telinga saya. ‘’Berapa ribu dolar yang harus dikeluarkan atas tindakan kamu itu?’’ katanya. Sebab pihak perusahaan harus menjamin semua biaya yang harus dibayar selama mereka ditampung di pengungsian, lalu pihak perusahaan harus membayar biaya pemulangan mereka atau pengiriman mereka ke negara yang selanjutnya akan menampung mereka. Dan tentunya, jumlah biaya yang harus dikeluarkan sangat banyak. Bahkan, mungkin saja perusahaan bisa bangkrut atas tindakan saya. Pantas dia berkata demikian.
Namun dengan setulusnya saya mengatakan bahwa saya merasa telah melakukan tindakan kemanusiaan. Bahwa apa yang saya angkat itu, bukannya sampah! Mereka adalah manusia. Dalam masalah ini, kami tunduk pada peraturan internasional safety of life at sea dan saya bertanggung jawab atas hal itu.

Pertengkaran kecil berakhir. Namun, kami merasa sangat kecewa atas sikapnya. Hanya, tentu saja harus disadari, bahwa saya hanyalah seorang pegawai biasa di perusahaan itu. Kemudian saya mohon diizinkan untuk melapor melalui telepon ke kantor Pusat di Jakarta. Dan saya mencoba menjelaskan kepada Pimpinan di Jakarta. Diperoleh jawaban bahwa pihak pimpinan di Jakarta akan mengupayakan jalan keluar melalui jalur diplomatik. Meskipun demikian, saya masih dilanda kebingungan. Apakah karena tindakan yang saya lakukan dengan setulusnya itu, justru harus ditebus dengan harga yang teramat mahal? Hingga bisa menyebabkan perusahaan gulung tikar alias bangkrut?

Ketika itu, terlintas ingatan saya pada seorang paman yang memahami benar mengenai Hukum Laut Internasional. Saya mencoba menghubungi paman yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Kehakiman, yaitu Prof. DR. Mochtar Kusumaatmadja.

Saya katakan bahwa saya tengah mengalami kesulitan, apakah beliau bisa membantu? Laporan saya diterima dengan baik oleh Pak Mochtar dan beliau mengatakan akan berusaha menyelesaikan masalah pengungsi Vietnam ini secepatnya.

Kami kembali ke kapal dengan perasaan gundah. Ada rasa kecewa sekaligus rasa malu, bagaimana saya dicacimaki dihadapan pada perwira dan bawahan saya. Namun perlakuan itu saya terima dengan ikhlas. Memang beginilah risiko menjadi seorang nakhoda. Hanya saja, saya tetap merasa yakin, tindakan saya itu benar. Tiba di kapal, saya dapati para pengungsi berangsur-angsur pulih dan tampak mulai segar bugar.

Kepada semua ABK saya berpesan agar bersikap ramah, jangan sampai mengganggu atau merampas harta benda atau kekayaan yang mereka miliki. Tetapi seorang ABK mengatakan, para pengungsi itu tidak membawa apa-apa. Mereka hanya mengenakan pakaian yang melekat di badan.

Telah dua hari kami menunggu dengan cemas. Apa yang harus kami lakukan? Karena dua hari lagi pembongkaran muatan selesai dan kapal harus segera meninggalkan pelabuhan Hongkong menuju pelabuhan Wham poa di daratan Cina untuk mengangkut muatan general cargo menuju Surabaya.

Sulit dibayangkan, apabila dalam dua hari lagi kami tidak mendapat berita dan kepastian penyelesaian masalah ini, tentunya persoalan pengungsi yang kami angkat itu bisa menjadi masalah besar. Kami bisa mengalami keterlambatan. Maka, apa yang dikhawatirkan Manajer Operasi akan menjadi kenyataan! Saya harus mencari jawaban. Saya masuk kamar, merenung dan memikirkan sendiri tentang apa yang harus kami hadapi di kemudian hari.

Suasana Haru Melepas Para Pengungsi

Memasuki hari ketiga, ternyata jawaban yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Seorang utusan dari Agen Perusahaan kami di Hongkong, menyerahkan sepucuk surat yang isinya membuat kami lega bahkan seluruh awak kapal dan para pengungsi merasa bergembira. Karena ternyata dalam waktu tiga hari itu, pihak UNHCR di Hongkong menyatakan bahwa semua pengungsi dapat meninggalkan kapal dan selanjutnya akan diterbangkan ke negara ketiga yang akan menampung mereka, yaitu Australia. Kabarnya, pemerintah Australia -- mengingat usia para pengungsi tidak terlalu tua – bersedia menampung mereka.

Pukul 12.00 waktu Hongkong, Tongkang yang menjemput para pengungsi sudah merapat di kapal. Segera kami kumpulkan para pengungsi. Saya jelaskan bahwa kini mereka sudah dapat turun dari kapal. Dan selanjutnya, besok mereka akan diterbangkan ke Australia untuk menetap di sana.

Mendengar hal itu, serta merta air muka mereka berubah. Saya melihat wajah-wajah yang semula pasrah dan nyaris tidak memiliki semangat hidup itu, kini berganti cerah dengan harapan yang penuh diliputi kegembiraan karena mereka pun tahu, Australia adalah sebuah negeri yang tenteram, negara yang maju, makmur dan sejahtera. Terbayang bangunan impian dan cita-cita hari depan di pelupuk mata mereka.




benua Australia
Namun ketika hendak meninggalkan kapal, dengan perasaan penuh haru mereka menjabat tangan seluruh awak kapal, sebagian tampak memeluk dan menangis sedih. Lalu, satu per satu menuruni tangga dan meninggalkan kapal.

Setengah jam kemudian, seluruh pengungsi sudah berada di kapal Tongkang, bergerak perlahan meninggalkan kami. Mereka melambai-lambaikan tangan tanpa berkata-kata lagi, bercampur antara sedih karena berpisah dengan kami dan perasaan gembira karena bayangan hari depan yang jauh lebih baik ketimbang di negerinya sendiri yang dilanda kekacauan. Terbayang pula ketika mereka nyaris kehilangan harapan setelah terombang-ambing tak berdaya di tengah laut lepas, menanti datangnya ancaman maut: badai tropis yang ganas!

Para ABK pun, serta merta membalas lambaian tangan mereka. Setelah jauh dan lepas dari pandangan mata, saya kumpulkan para ABK di salon. ‘’Inilah akhir dari suatu peristiwa yang memang harus kita alami bersama. Kita sudah dapat keluar dari kesulitan ini, karena saya yakin bahwa tindakan yang kita laksanakan dengan penuh kesadaran, dengan penuh ketulusan, dengan keteguhan menghadapi kesulitan apa pun, maka …tentunya atas izin dan bantuan Allah Yang Maha Kuasa, kita bisa dilepaskan dari permasalahan ini,’’ kata saya.

Jadi, apa yang telah disampaikan bahwa pihak perusahaan akan rugi sekian puluh juta US dollar, ternyata tidak benar! Sebab dengan tindakan cepat yang dilakukan oleh orang-orang yang bersimpati terhadap keputusan kami ini, malapetaka itu berhasil dihindarkan. Dari pengalaman ini, saya mendapat satu pelajaran yang hingga kini melekat dan tertanam di dalam diri saya, bahwa kita memang tidak perlu ragu dan jangan takut untuk berbuat sesuatu demi kebaikan kemanusiaan.

No Pay, No Cure!


Memang pada waktu itu, setelah perang vietnam berakhir, di mana kapal-kapal kami berlayar dari pelabuhan-pelabuhan Hongkong, pelabuhan Cina, Korea maupun Jepang, mau tidak mau, kita harus melewati perairan Vietnam. Dan meskipun kita sudah berlayar jauh dari pantai Vietnam, katakan saja sampai sekitar 20 mil, namun ada saja kemungkinan kita berpapasan dengan perahu-perahu tersebut.

Sebelum kejadian ini, telah tiga kapal kami temukan di lautan, namun dalam kondisi yang relatif lebih baik. Kami tolong mereka dengan menariknya ke pantai terdekat untuk kemudian kami lepaskan. Sebuah kapal, pernah kami lepaskan sekitar perairan Thailand. Dua kapal lagi berisi rata-rata lebih dari seratus orang, dengan kondisi nyaris tenggelam, kami tarik hingga kira-kira 5 mil sebelum mendekati pantai Natuna, kemudian kami lepaskan setelah mengirimkan logistik air dan makanan secukupnya.

Kami tahu betul adanya suatu peraturan yang melarang kami, para nakhoda untuk membawa para pengungsi Vietnam ke Indonesia. Niat kami sebenarnya, hanyalah untuk menolong mereka dari ancaman bahaya di laut. Dan setelah kami yakin mereka akan selamat --mengingat jarak yang sudah cukup dekat dengan pulau Natuna—kemudian kami lepaskan.
Tanggungjawab sebagai nakhoda kapal memang cukup berat. Bukan saja kita sewaktu-waktu bisa bertemu dengan para pengungsi Vietnam tetapi kalau kita melewati pantai Filipina ada kemungkinan kita juga berpapasan dengan para pengungsi dari Filipina sehubungan dengan adanya peristiwa pemberontakan di Moro Selatan.

Suatu saat kami pernah menolong sebuah kapal penumpang di perairan Filipina Selatan. Kami dapati kapal itu dalam keadaan setengah miring, dengan penumpang berjumlah sekitar 1500 orang yang semuanya tumpah ruah di geladak paling atas. Tentunya hal itu, malah akan lebih membahayakan kapal beserta seluruh penumpangnya.
Setelah kami dekati, terbaca nama kapal itu MV. San Bernandino. Melalui hubungan radio kami tanyakan musibah apa yang sedang dialami. Kapten kapal menjawab bahwa kapal dalam keadaan bocor, mesin mati dan mereka terbawa hanyut ke luar. Dengan amat sangat, mereka meminta pertolongan agar ditarik ke pelabuhan terdekat.

Di dalam peraturan mengenai pelayaran, memang ada semacam prosedur pertolongan di laut, yang dikenal dengan prosedur Salvage dengan istilah no pay, no cure. Bahwa dengan memberikan pertolongan, kita akan kehilangan waktu, akan kehilangan bahan bakar, sehingga secara bisnis tentunya akan menimbulkan kerugian. Maka, kemudian bisa dipahami adanya suatu negosiasi, tawar-menawar, berapa biaya ‘jasa pertolongan’ yang disepakati kedua pihak.

Namun pada beberapa peristiwa, saya justru kurang memperhatikan hal itu. Bagi kami, yang terpenting adalah bagaimana kami bisa menolong manusia, tanpa menghitung berapa jumlah tawar menawar itu. Maka ketika saya menghadapi San Bernandino, serta merta saya perintahkan ABK untuk menyiapkan senapan pelempar tali tross, yang menghubungkan kami dengan kapal mereka. Setelah beberapa kali tembakan gagal, akhirnya saya panggil salah seorang awak kapal yang kebetulan bekas prajurit marinir. Dan ternyata tembakannya berhasil.

Setelah tali-tali tross terhubungkan, pelan-pelan San Bernandino kami tarik menuju pelabuhan terdekat, yang kami lihat di peta adalah pelabuhan Zamboanga. Kami tarik sampai harbour limit, kemudian kami sampaikan lewat radio kepada Syahbandar di sana bahwa kami menarik kapal yang sedang dalam musibah agar segera dijemput dengan kapal-kapal tunda. Diperlukan waktu delapan jam untuk sampai ke Zamboanga. Hanya beberapa mil dari pelabuhan, tali-tali tross kami lepaskan setelah kami yakin bahwa dua kapal tunda akan menarik San Bernandino hingga bisa memasuki pelabuhan dengan selamat.

Pelaut, Wajib Menolong



menanti pertolongan
Suatu kali, kami pun pernah mendapati sebuah perahu phinisi dalam keadaan tenggelam, hanya tinggal tiang-tiangnya saja yang kelihatan. Tetapi setelah kami dekati, ternyata ada sembilan orang yang masih bergelayutan di tiang itu seraya menantikan pertolongan.

Kembali kami beserta seluruh awak kapal berusaha menyelamatkan mereka. Penyelamatan berhasil. Dan kesembilan awak phinisi itu kami turunkan di perbatasan pelabuhan Banjarmasin. Inilah, satu hal yang senantiasa terpatri di dalam hati kami masing-masing bahwa menolong kapal lain yang dalam kesulitan dan bahkan menyelamatkan jiwa manusia yang berada di dalamnya, adalah kewajiban pelaut, kewajiban kita sesama manusia.
Kalau saya mencoba menghitung-hitung kembali, selama saya menjadi nakhoda kapal, setidaknya kami telah berhasil menyelamatkan sekitar 3.000 orang..Bagi saya pribadi, kenyataan ini mendorong semangat saya dalam pelayaran-pelayaran berikutnya yang kami laksanakan khususnya pada waktu kami membawa kapal Phinisi Nusantara.
Bahwa dengan sekian banyak jiwa yang telah kami tolong di laut, kami yakin suatu saat bila kami mendapat kesulitan, tentunya akan ada orang lain yang menolong. Setidaknya, saya mempunyai alasan untuk menagih janji kepada Tuhan. Itulah suatu prinsip yang kami pegang teguh. Bahwa kita harus berusaha menolong orang lain, karena suatu saat, bila kita mengalami suatu musibah, tentu kita pun akan ditolong oleh sesama pelaut, sebagaimana makna dan spirit dari seamen brotherhood, yang berlaku secara internasional, tanpa mengenal batas-batas negara, suku, ras atau pun agama. Dan ini telah diwariskan sejak zaman dahulu.

Ada suatu musibah besar yang kami dengar yaitu ketika kapal Tampomas II tenggelam, kapal penumpang itu mengangkut ribuan manusia dari Jakarta menuju ke Ujung Pandang. Saya berpikir dan berangan-angan, seandainya pada kejadian itu tim kami yaitu awak kapal MV. Andhika Tarunaga berada di perairan itu, saya merasa yakin bahwa dengan tim yang sudah terlatih dan kompak itu, mungkin kami pun bisa membantu menolong mereka sebab kami dengar --dalam usaha menyelematkan mereka-- banyak sekali menelan korban. Sayangnya, ketika Tampomas tenggelam, kami sudah turun dari kapal Andhika Tarunaga untuk ditempatkan bekerja di darat.
                                                                              * * * * 


Beberapa hari setelah peristiwa pengungsi Vietnam itu, saya menyusun laporan secara kronologis kepada pimpinan PT. Andhika Lines di Jakarta, dalam bentuk berita acara dengan nomor 288/ATN/VII/81. Berikut ini petikannya.

Lampiran:

B E R I T A   A C A R A

N0.: 288/ATN/VII/81


Bersama ini kami laporkan perihal pertanggungan jawab atas keputusan Nakhoda MV ANDHIKA TARUNAGA untuk mengambil tindakan menyelamatkan/menaikkan ke kapal para pengungsi Vietnam Selatan dalam pelayaran Voyage N0. 29 NB dan selanjutnya diturunkan di pelabuhan bongkar Hong Kong.

Laporan secara kronologis adalah sebagai berikut:

1. Pada tanggal 25-6-1981 jam 19.20 kapal meninggalkan pelabuhan Miri/Sarawak dengan muatan 4005 pcs = 4569,69 K/T round logs, menuju pelabuhan bongkar Hong Kong.

2.Pada pos. 10 22N 118 35 E west coast Palawan kapal merobah haluan dari 028 ke 339 dengan garis haluan langsung ke Wang Lan island/Hongkong dengan distance to go: 780 miles.

3.Pada tanggal 28-6-1981 jam 18.00 Pos. 15 35N 116 58E kapal melihat tanda nyala api yang sesuai dengan Coll Reg 1972 Bagian IV aturan N0. 31/VIII, dapat diartikan sebagai isyarat tanda bahaya.

Posisi tersebut berada pada jarak :
sekitar 50 miles north west Scarborough reef
sekitar 150 miles west coast Luzon
sekitar 450 miles south east Hong Kong
sekitar 470 miles east coast Vietnam

Kemudi diambil alih dari perwira jaga, dan kapal berolah gerak menuju pada object tersebut, yang ternyata adalah sampan ikan ukuran panjang sekitar 7,5 meter, lebar sekitar 2,5 meter dalam kondisi setengah tenggelam dengan penumpang terdiri dari,
                             anak-anak : 12 orang
                             wanita        :   9 orang
                             laki-laki      : 19 orang
                             Jumlah       : 40 orang

Rencana kami semula adalah hanya akan memberikan perbekalan makanan/air tawar dan melepas mereka untuk melanjutkan pelayarannya. Tetapi dengan berbagai pertimbangan, kami kemudian memutuskan untuk menaikkan mereka semua ke kapal dengan alasan sebagai berikut:

Permintaan yang mendesak dari mereka, karena sudah tidak sanggup lagi untuk meneruskan pelayaran, mengingat kondisi mereka yang sudah sekitar 9 hari terapung, tanpa makan dan minum sejak keberangkatan mereka sekitar tanggal 19-6-81 dari pelabuhan Phun Khanh, Vietnam Selatan.

Kondisi kapal sudah setengah tenggelam dan motor penggerak (Yanmar TS 60) dalam keadaan rusak (kami perintahkan Motor Driver S Karnomo untuk mencheck /memperbaiki, tetapi kondisinya memang sudah tidak memungkinkan lagi untuk dijalankan – terdapat as dari baling-balingnya dalam keadaan sudah patah), perahu dicoba untuk ditarik karena kondisi yang sudah rapuh tidak dapat mengimbangi gaya gesekan air akibat kecepatan kapal dan kemudian tenggelam.

Dari pengamatan berita cuaca terakhir (facsmile 28-06-00) didapati adanya TD 1005 mb pada posisi 90 mile pantai timut Luzon bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan sekitar 12 knot, yang kemudian ternyata TD tersebut berubah dengan cepat menjadi severe tropical storm Kelly 998 mb dan hal ini tentunya akan sangat membahayakan keselamatan jiwa mereka, apabila mereka dibiarkan terapung pada posisi tersebut. (Terlampir data dari peta cuaca).

5.Dengan alasan-alasan yang kami uraikan dalam sub 4 dan berdasarkan pada:
Solas 1974 Artikel V pengangkutan orang dalam keadaan bahaya (carriage of person in emergency)

b.Solas 1974 Bab V keselamatan pelayaran (safety navigation) – Aturan N0. 10 Berita-berita bahaya kewajiban-kewajiban dan tata kerja (Distress message-obligation and procedures), kami diwajibkan menyelamatkan mereka dan untuk menghindari delay time, mereka tidak kami daratkan di Philipina tapi dibawa sampai pelabuhan bongkar Hong Kong, dan melaporkan per telegram ke AAGROUP/ Hong Kong dan MARDEPT/Hong Kong, untuk persiapan clearance selanjutnya.

6. Kapal tiba di Hong Kong pada tanggal 30-6-81 jam 14.19 langsung diadakan pemeriksaan oleh pihak kepolisian, imigrasi dan dokter pelabuhan. Tanggal 30-6-81 jam 15.45 Free Pratique granted/NOR tendered, kapal diijinkan untuk pindah ke Buoy B2O untuk meneruskan kegiatan bongkar/muat, dengan demikian adanya para pengungsi di kapal tidak mengakibatkan delay dalam kegiatan bongkar/muat selanjutnya, kecuali para pengungsi tidak diijinkan untuk turun ke darat.

7. Tanggal 3-7-81 jam 18.00, berkat usaha yang serious dari para pejabat staf, baik dari H/O Jakarta maupun Arya Agencies (HK) Ltd., para pengungsi Vietnam dapat diturunkan ke darat (ke Camp khusus pengungsi Vietnam) setelah ada clearance dari jawatan imigrasi dan adanya negara ketiga (Australia) yang mau menerima mereka.

Kami menyadari bahwa tindakan kami tersebut di atas telah menimbulkan kerugian di bidang financial perusahaan, namun demikian kami merasa yakin secara pribadi, kita akan merasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa kesempatan yang diberikanNya untuk dapat menjunjung tinggi norma-norma kemanusiaan yang beradab telah dapat dilaksanakan bersama dengan sebaik-baiknya.

Dalam jangka waktu tersebut keadaan suasana di kapal, kebersihan dan kesehatan tetap dapat dipertahankan dengan baik dan kami menjamin bahwa tidak ada tindakan-tindakan ABK yang bersifat negatif baik yang berbentuk gangguan ataupun permintaan / perampasan hak milik pribadi mereka.

Pada saat mengambil keputusan tersebut, saya berada dalam pikiran yang sadar, tanpa ada paksaan dari pihak lain, dengan demikian tanggungjawab penuh berada pada saya sebagai Nakhoda di kapal Andhika Tarunaga.

Sekian berita acara ini kami laporkan dengan sesungguhnya tanpa ada hal-hal yang bertentangan dengan fakta-fakta yang ada, selanjutnya penilaian kami serahkan pada pimpinan perusahaan.
                Di kapal, 5-7-1981
                Gita Ardjakusuma
                 MV ANDHIKA TARUNAGA-NAKHODA
Tembusan:
Direktur Operasi
Kabag Pers Laut
Simpanan
Lampiran:
Statement of Fact
Marine Note of Protest
Berita Cuaca
Arsip Telegram

DAFTAR PENGUNGSI VIETNAM
YANG BERHASIL DISELAMATKAN MV. ANDHIKA TARUNAGA, JULI 1981



N0


NAMA   PENGUNGSI
Jenis Kel.
L =  Laki-laki
P =  Perempuan


Lahir / Usia
01
NGUYEN VAN PHUNG
            L
1955
02
NGUYEN THANH CHUNG
L
1958
03
NGUYEN XUAN HUONG
L
1951
04
NGUYEN VAN THO
L
1957
05
TRAN VAN PHUK
L
1966
06
NGUYEN THANH AN
L
1966
07
NGUYEN BICH THUAN
L
1957
08
NGUYEN THANH DUNG
L
1963
09
BUI VAN VI
L
1966
10
NGUYEN VAN BONG
L
1960
11
TRAN NGOK ANH
L
1955
12
PHAM NGOC THANH
L
1947
13
PHAM NGOC TOT
L
1965
14
BUI - DO
L
1959
15
BUI VAN NHAM
L
1957
16
NGUYEN VAN THU
L
1965
17
LAM VAN DIEN
L
1964
18
TRAN VAN NOA
L
1965
19
BUI VAN NGHIEM
L
1965
20
NGUYEN THI HOA
P
1960
21
NGUYEN THI NAN
P
1954
22
NGUYEN THI HOT
P
1959
23
BUI THI SUONG
P
1953
24
PHAN THI HAI
P
1955
25
PHAM THI MIEN
P
1953
26
PHAM THI KIEN
P
1957
27
TRN THI CHU
P
1948
28
NGUYEN THI KHOM
P
1950
29
NGUYEN THI ANH NGOC
P
1977
30
NGUYEN THI KIM CHAU
P
1980
31
NGUYEN VAN BAM
L
1973
32
BUI THI DON
P
1975
33
BUI THI HA
P
1978
34
BUI VAN PHUONG
L
1978
35
PHAM NGOC BANG
L
1973
36
PHAM THI THU SANG
P
1974
37
THAM THI HUYEN TRANG
P
1975
38
NGUYEN DUY PHUOC
L
1979
39
BUI VAN AI
L
1979
40
PHAM THI GAI
P
1981

2 komentar:

Anonim mengatakan...

menbawa kisah bapak saya jadi terharu , di tengah manusia yang lebih mementingkan materi dan sebagainya ternyata masih ada orang yang baik seperti bapak , semoga tuhan memberkati bapak dan sekeluarga

Semy Havid mengatakan...

Amin. Terimakasih atas do'anya. Salam juga untuk Anda sekeluarga.