Sabtu, Mei 23, 2009

Java Doll Menantang Maut, Antara Keelung - Tanjung Priok



Tiga petualang pemberani, berhasil menembus samudera hanya dengan Java Doll perahu jenis Ketch (13x2 M), dari Keelung (Taiwan) ke Tg. Priok (Jakarta) sejauh 2300 mil laut. Seperti tiga ekor semut yang bertahan pada selembar daun kering di tengah lautan luas. Namun ternyata, mereka berhasil tiba dengan selamat, setelah menghadapi berbagai kendala, tantangan dan badai, di Laut Cina  Selatan yang nyaris menghancurkan kapal mereka dan menguburnya di laut. Inilah kisah petualangan heroik mereka.     

Peristiwa ini terjadi pada 1974. Jika kita buka lembaran sejarah politik nasional, maka akan terbentang sebuah drama politik yang menampilkan babak baru tentang rekaman ‘keberanian’ para mahasiswa Indonesia menentang sebuah rezim yang paling represif. Tatkala Orde Baru di bawah pimpinan Jenderal Soeharto tengah berada di tampuk kekuasaan dengan sangat kuatnya.

Suhu politik di jantung Ibukota memanas, menyusul aksi demonstrasi para mahasiswa menentang kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakue Tanaka ke Jakarta. Tanaka dinilai sebagai simbol neo-kolonialisme dan imperialisme (nekolim) baru, dengan munculnya dominasi produk-produk Jepang yang membanjiri pasar Indonesia, sehingga melumpuhkan perekonomian nasional. 

Namun aksi mahasiswa yang berbuntut kerusuhan itu, tidak berlangsung lama setelah Panglima Komando Operasi Pemulihan dan Keamanan (Pangkopkamtib) Jenderal Soemitro berhasil ‘melumpuhkan’ gerakan mahasiwa dan menangkapi para pengunjuk rasa termasuk tokoh mahasiswa Hariman Siregar (mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). 

Keberanian serupa dengan gaya yang berbeda, terjadi di sekitar kepulauan Seribu, yang terpaut jarak beberapa kilometer saja dari Jakarta Utara. Seorang pelaut berpangkat Letnan Satu bersama dua rekannya, menunjukkan keberanian dengan gaya dan cara serta dalam ruang lingkup yang berbeda. 

Mereka bertekad melayarkan sebuah perahu layar dari pelabuhan Keelung, di bagian paling utara selat Formosa (Taiwan) menuju ke pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menempuh jarak 2.300 mil laut, hanya dengan perahu layar kecil jenis ketch. Mirip tiga ekor semut di atas selembar daun kering terhanyut di sebuah kolam raksasa berarus deras!

Petualangan heroik yang mengancam jiwa ini, dikisahkan oleh pelaku utamanya untuk pembaca Indonesia Waters. Selamat mengikuti!


JAVA DOLL hanyalah sebuah nama yang diberikan pemiliknya kepada sebuah perahu layar tipe Ketch sejenis yacht. Beratnya sekitar 14 ton, panjang 13 meter dan lebar sekitar 2 meter. Kapal ini dibuat di Taiwan oleh para pengrajin setempat. Tenaga kapal selain menggunakan dua daun layar juga dibantu mesin diesel berkekuatan 40 PK, sehingga sanggup melaju dengan kecepatan sekitar 12-15 knots.

Java Doll dirancang untuk keperluan rekreasi olah raga air --bukan untuk penjelajahan samudera-- .dipesan oleh Kol. Jerry J. Mitchell, marinir berkebangsaan Amerika yang bertugas di Jakarta. Ia acapkali berlayar di sekitar Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

Sedianya, setelah pesanannya jadi, ‘boneka jawa’ itu akan diterbangkan atau dikapalkan melalui cargo laut dari Keelung ke Jakarta. Namun karena ingin menguji ketahanannya, pemiliknya berubah pikiran. Ia bertanya kepada koleganya di Jakarta tentang kemungkinan seseorang yang sanggup (memiliki kecakapan, ketangguhan mental dan keberanian yang memadai) untuk melayarkan ‘boneka jawa’ kesayangannya itu, ke pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Tersebut lah Lettu (P) Gita Arjakusuma. Seorang perwira TNI-AL yang sejatinya hanya seorang pemuda yang ingin berbakti kepada orangtuanya, Mayor Udara Sueb Arjakusuma, yang ketika itu berada dalam tahanan Nirbaya menyusul peristiwa G-30-S /PKI.

Pengalaman melayarkan Java Doll ini, di kemudian hari menambah keyakinan Letnan Gita untuk melibatkan dirinya dalam suatu proyek yang terbilang prestisius, ambisius sekaligus heroik dalam pelayaran legendaris (lihat: Kisah Pelayaran Legendaris Phinisi Nusantara) sebagai upaya pemulihan atau rehabilitasi nama baik keluarganya yang dicap sebagai ‘tidak bersih lingkungan’ pada masa kekuasaan politik di Indonesia berada di bawah rezim Orde Baru dipimpin Jenderal Suharto. 

Lettu Gita, ketika itu, ditempatkan di Kapal Cepat MTB Jerman, yang berpangkalan di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Selesai bertugas, ia acapkali menghabiskan waktunya dengan berolahraga air sambil berekreasi.

Ketika itu, di Jakarta ada sebuah perkumpulan layar bernama Jakarta Offshore Sailing Club, yang beranggotakan orang-orang asing pemilik kapal-kapal layar. Bersama beberapa rekan sesama korpsnya, Gita bergabung dengan klub tersebut. Dan turut berlomba dengan mereka, berlayar dari Tanjung Priok ke pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Seribu, seperti: pulau Ayer, pulau Damar, pulau Bidadari dan sekitarnya. Bahkan sampai ke pulau yang terjauh di utara yaitu pulau Jaga Utara *.

Kepada INDONESIA WATERS Gita menuturkan kisah selanjutnya. ‘’Suatu hari, saya dipanggil Kolonel Oerip Santoso, Ketua Perkumpulan Olahraga Layar Seluruh Indonesia (Porlasi),’’ ujarnya membuka cerita. Kolonel Oerip, ketika itu, mengatakan bahwa Porlasi diminta Laksamana Soedomo* untuk memenuhi permintaan bantuan Kolonel Marinir Jerry J. Mitchell, Atase Pertahanan Angkatan Laut Amerika di Jakarta.

Kolonel Jerry Mitchell memiliki sebuah perahu layar tipe Ketch dengan nama Java Doll, yang kini berada di Taiwan. Dan ia mengharapkan Java Doll dapat dilayarkan dari KeeLung, pelabuhan paling utara di kepulauan Taiwan, ke Jakarta. Permintaan bantuan itu diajukan kepada Laksamana Soedomo, yang selanjutkan diteruskan kepada Kolonel Oerip.

Bersama Kolonel Oerip, kami menghadap Laksamana Soedomo, yang kemudian meminta kami untuk mencari beberapa perwira lainnya sebagai tim pada pelayaran yang menempuh jarak sekitar 2.300 mil itu. Tidak perlu waktu lama, kami sudah dapat mengumpulkan teman-teman, yang siap berlayar dengan sukarela.

Melalui surat N0. B/007/PEROPI/74 yang ditujukan kepada KASAL Laksamana Subono, Laksamana Soedomo menyebutkan beberapa perwira TNI AL untuk dipertimbangkan keikutsertaaannya dalam pelayaran ini, yaitu: saya sendiri Lettu Laut (P) Gita Ardjakusuma, Lettu Laut (P) Brahmana Bausat dan Letda Laut (P) La Ode Dayan. Disebutkan pula bahwa voyage itu dilaksanakan dalam rangka pengembangan olahraga laut dan sekaligus untuk mendapatkan pengalaman mengenai blue water sailing.

Bagi saya pribadi, kesempatan ini merupakan pengalaman kedua kalinya bepergian ke luar negeri, setelah muhibah dengan KRI Dewa Ruci pada 1967 ke Singapura, Malaysia dan Bangkok. Selain itu, melayarkan sendiri kapal jenis Ketch, tentunya merupakan sebuah tantangan yang menarik. Namun harus diakui bahwa tugas pelayaran ini memang cukup berat dan penuh risiko.

                                     Bukan Surat Perintah, Tapi Surat Izin

Menjelang keberangkatan, kami mendapat surat penugasan yang ditandatangani oleh KASAL Laksamana Subono. Surat penugasan itu bukanlah surat perintah, tetapi surat izin. 


Ada perbedaan mendasar antara surat perintah dengan surat izin, sebagaimana dijelaskan asisten pribadi KASAL. Surat Perintah mengandung konsekuensi bahwa apa pun yang terjadi di kemudian hari, sepenuhnya menjadi tanggungjawab pemberi perintah yaitu pimpinan TNI Angkatan Laut. 


Tetapi, tidak demikian halnya dengan Surat Izin, yang berarti mengizinkan kami untuk berlayar, namun jika pada pelayaran tersebut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya mengalami kecelakaan di laut yang mengakibatkan cacad badan atau bahkan lebih buruk dari itu, maka keadaan demikian merupakan risiko masing-masing.

Penjelasan asisten KASAL itu, ternyata kemudian menyurutkan niat para perwira yang semula siap berlayar. Mereka mulai mempertimbangkan banyak hal. Bagaimana dengan keluarga yang ditinggalkan? Apalagi, pelayaran itu bertepatan dengan pendidikan Perwira Lanjutan. Dan bagi mereka yang sudah berkeluarga, tentunya lebih tertarik mengejar karier. Kenyataan demikian, berbeda dengan saya. Selain masih bujangan, saya pun sudah mengikuti pendidikan perwira kapal cepat di Surabaya.

Ingin Kenal Pak Domo 

Meskipun kedua perwira mengurungkan niatnya dan kemudian mengundurkan diri, sebaliknya saya justru bertekad melaksanakannya. Motivasi pribadi yang mendorong saya, karena adanya keinginan yang kuat untuk mengenal Laksamana Soedomo. Beliau adalah mantan pimpinan tertinggi Angkatan Laut, yang juga menjabat Wakil Pangkopkamtib. Dalam kapasitas demikian, saya berharap beliau memberikan perhatian atas nasib saya. Setidaknya, saya mendapat kesempatan untuk mengemukakan tentang ketidakjelasan status penahanan ayah saya. Inilah, yang menguatkan tekad saya melaksanakan misi pelayaran itu.

Kepada Pak Domo terpaksa saya laporkan, bahwa perwira yang lain mengundurkan diri. Rupanya, beliau tetap menginginkan kapal itu dibawa oleh tim dari Angkatan Laut. Maka, kembali ia menegaskan:

‘’Apakah kamu sanggup untuk berlayar?’’
‘’Saya sanggup,’’
‘’Kalau begitu, cari dua orang lainnya. Ya, kalau tidak ada perwira, cari siapa saja yang mau,’’ katanya

Teringat John Gunawan

Setiap pelayaran, membutuhkan tim yang kompak. Dan pada pelayaran ini pun, setidaknya diperlukan seorang ahli layar, ahli navigasi, dan tentu saja karena yacht ini dibantu tenaga mesin, diperlukan seorang ahli mesin dan elektronika.

Saya teringat seorang teman yang paling ahli mengenai seluk-beluk bermanuver dengan kapal layar. Ia adalah John Gunawan, seorang partner yang selalu tampil dalam berbagai lomba layar, baik dalam kegiatan Porlasi maupun PON.

John seorang yang tekun dalam olah raga layar. Pria kelahiran Sukabumi 17 Oktober 1925 itu, sejak tahun 1945-1950 bekerja pada Palang Merah Internasional di Jakarta. Tetapi kemudian, sekitar tahun 1951-1960 ia bekerja sebagai karyawan perusahaan kontraktor di bidang arsitek. Setelah itu, sekitar tahun 1961-1968, ia menjadi salah seorang manager pada perusahaan ‘’General Engineering Company’’ di Jakarta.

Namun pada tahun 1970-1974, ia membuka usaha sendiri di bidang pembuatan perahu layar, dengan nama ‘John Gunawan Boat Works’. Dan sekitar 1973-1974, John mendapat sertifikat internasional untuk pembuatan perahu layar Fireball dan Internasional 470 dari IYRU (International Yacht Racing Union) di Inggris.

Sedang prestasi John di bidang layar, pada tahun 1960 ia pernah ambil bagian dalam kejuaraan Lomba Layar Timur Jauh di perairan Manila, sebagai awak kapal Dragon.

Pada kejuaraan Lomba Layar Federasi Timur Jauh di perairan Pattaya Muangthai (1968), John bersama (waktu itu) Kapten TNI-AL Oerip Santoso, Lukas, Boy (Tan Tjong Siang), berhasil merebut juara II untuk kelas Flying Dutchman. Sebelumnya, pada Games of New Emerging Force (Ganefo) I tahun 1963 di Jakarta mereka pernah menempati juara III.

Pada bulan Oktober 1968, John beserta tim yang mewakili Indonesia, berhasil lolos pada babak kualifikasi Olimpiade XIX yang berlangsung di perairan Acapulco, Meksiko. Tetapi mereka batal berlaga di Olimpiade, sebab kontingen Indonesia kemudian terpaksa menarik diri dari Olimpiade karena alasan politik.

Perlu Ahli Mesin

Selain John Gunawan yang tidak diragukan lagi keahliannya dalam soal layar, kami pun membutuhkan seorang ahli mesin. Pilihan saya jatuh pada Sersan Mayor Abrar Buhari. Ia adalah Kepala kamar Mesin (KKM) di kapal kami KRI Anoa. Saya bicarakan keinginan saya mengajaknya. Tampaknya ia tidak antusias. Alasan lain, ia mengaku tidak tahu menahu dalam soal layar.

Tetapi setelah agak lama membujuk dia, ditambah dengan segala rayuan, akhirnya ia mau juga. Meskipun kemudian, diperlukan beberapa bulan untuk melatihnya. Dari seorang yang sama sekali tidak tahu apa itu layar jib, main sail, maupun spinaker, sampai ia merasa cukup mahir bagaimana mengolah gerak kapal dan taktik serta manuver sebuah perahu layar. Maka, lengkaplah tim kami dengan bergabungnya Serma Abrar Buhari yang akan mengatasi soal mesin. Jadi, tim kami adalah: saya menangani navigasi, John Gunawan mengurus layar dan Serma Abar untuk urusan mengotak-atik mesin.

Setelah kami merasa siap, Laksamana Soedomo kemudian mempertemukan kami dengan Kolonel Jerry Mitchell. Tentu saja, Kol. Mitchell sangat gembira. Tampaknya, ia memang sudah membayangkan bahwa Java Doll yang sedang dibuat di KeeLung itu, akan segera tiba di Jakarta, sehingga bisa digunakan menikmati pelayaran di Kepulauan Seribu.

Surat-surat yang diperlukan telah selesai. Dan kami pun siap berangkat. Pada saat itu, mata uang kita mengalami devaluasi, yang menyebabkan harga-harga barang yang kami butuhkan selama perjalanan pun terasa cukup mahal. Sedangkan kami dalam kondisi keuangan yang betul-betul berat untuk membeli perlengkapan-perlengkapan layar, terutama kebutuhan pakaian musim dingin. Memang, tiket pesawat dan keperluan makan sehari-hari, sudah ditanggung oleh Kol. Mitchell. Tetapi untuk keperluan lainnya, kami bertiga hanya dibekali uang saku sebesar 100 dolar AS. Itupun dipotong 40 dolar untuk keperluan dokumentasi, seperti membeli film. Jadi, dengan sisa uang seadanya itulah, kami nekad melayarkan Java Doll.

Pada waktu yang ditentukan, kami tiba di Taipei. Keesokan harinya berangkat menuju pelabuhan menggunakan pickup yang sudah siap dengan bekal makanan dari Naval Exchange Angkatan Laut Amerika di sana.

Pada saat itu, di Taiwan masih banyak terdapat pangkalan Angkatan Laut Amerika. Kota pelabuhan Keelung pun sangat ramai. Ketika hari mulai gelap, tampak berseliweran tentara GI dan pelaut-pelaut Amerika, mereka tampaknya benar-benar menikmati kehidupan malam. Dengan sisa uang yang tersedia dikantong, tentunya kami harus menyesuaikan diri. Cukup menonton saja keramaian di sana dan sekadar jalan-jalan di sekitar hotel.

Di pelabuhan KeeLung, Java Doll baru saja keluar dari galangan. Sebuah perahu layar yang panjangnya 13 meter, dan berat 14 ton itu, dilengkapi dengan empat buah layar. Kapal layar ini juga dibantu mesin berkekuatan 40 PK. Kapal semacam ini memang biasa digunakan dalam lomba layar jarak jauh (offshore sailing race). Di galangan, kami turut membereskan semua peralatan yang ada. Dua hari kemudian, Java Doll siap berlayar.

Tak Siap Hadapi Cuaca Buruk

Sebenarnya, tekad yang kuat saja belum cukup. Tetapi harus dibarengi dengan persiapan yang memadai, terutama dalam menghadapi berbagai kondisi alam dan cuaca buruk. Persiapan menghadapi cuaca buruk itulah, yang kami rasakan kurang dipersiapkan. Apalagi, posisi pelabuhan KeeLung yang terletak di atas lintang 20 derajat. Pada lintang-lintang di atas 20 derajat itu, biasanya terjadi badai putar tropika. Kenyataan itulah, yang kemudian kami rasakan akibatnya.

Setelah keluar dari pelabuhan KeeLung, kami berlayar menyusuri pantai. Tetapi, tidak berapa lama berlayar, tiba-tiba kami dihadang angin kencang di atas 30 knot. Saat itu layar yang kami gunakan adalah jenis light weather. Maka, seketika itu juga layar jib dan dua layar utama, langsung sobek menganga dihantam angin keras.

Dengan terburu-buru, kami segera menurunkan layar dan menggantinya dengan layar storm jib heavy weather. Memang, seharusnya sejak semula kami menggunakan layar heavy weather dan bukan light weather untuk menyongsong angin yang berkekuatan di atas 20 knot. Inilah kesalahan fatal pertama. Kami memutuskan berbalik arah, kembali ke pelabuhan.

Tentu saja, Kolonel Mitchell yang menyambut kami di dermaga tampak marah dan bersungut-sungut . Ia bahkan mulai meragukan kemampuan kami dan mencemaskan pelayaran ke Jakarta. Tetapi, kami berusaha meyakinkan Kol. Mitchell bahwa kami tetap sanggup melayarkan kapal ini. Setelah mengganti layar yang robek, keesokan harinya kami bertolak meninggalkan pelabuhan.

Kepanikan Disapu Gelombang

Ada semacam tradisi bagi pelaut-pelaut Cina di sana, bahwa kapal yang hendak berlayar meninggalkan pelabuhan, biasanya membakar petasan. Entah apa artinya. Yang jelas, ketika itu cuaca cukup bagus.

Pada pelayaran ini, kami hanya mengandalkan peralatan navigasi manual, yaitu sextant untuk menentukan posisi kapal dengan mengukur ketinggian bintang-bintang di langit. Selain itu, ada pula pembaring radio atau Radio Direction Finder (RDF). Kami belum mengenal navigasi dengan bantuan satelit (satnav) atau pun Global Positioning System (GPS), yang mencatat data posisi kapal secara akurat dengan bantuan satelit.

Namun kami mencoba berlayar dengan tegar. Meyakinkan diri kami masing-masing bahwa kami sanggup dan akan berhasil mencapai pelabuhan tujuan: Tanjung Priok, Jakarta. Sejak pagi ketika keluar dari pelabuhan Keelung hingga siang hari, pelayaran berjalan mulus.

Kami melewati gugusan pulau-pulau kecil. Di kejauhan, tampak tegak berdiri Dewi Kuan Im, sebuah patung berukuran raksasa yang dipercaya membawa berkah keselamatan. Secara naluriah, ketika kapal kami melewatinya kami pandangi Dewi Keselamatan itu, cukup lama. Seakan menyadarkan kami, untuk menundukkan kepala memohon perlindungan dan keselamatan dari Yang Maha Kuasa.

Matahari segera tenggelam. Lautan berubah menjadi gelap. Dan awan tampak menghitam. Jarum jam terus bergulir, menunjukkan pukul 20.00 malam. Sekonyong-konyong, terdengar siulan angin yang disusul suara bergemuruh menakutkan. Kami tersentak. Kapal tiba-tiba miring sekitar 20 derajat, diikuti datangnya gelombang besar dari arah buritan. Kami dilanda cemas. Sebab, dengan keadaan kapal berlayar miring dan ombak yang cukup tinggi, kondisi ini sungguh membahayakan.

Gulungan ombak ganas
Rasa cemas, berubah menjadi panik! Serta merta kami menurunkan layar besar dan menaikkan jib kecil. Namun ketika gelombang sudah tinggi, upaya itu tidak menolong. Kapal tetap miring.

Selanjutnya, tampak air laut merembes perlahan. Serma Abrar, mencoba menahan rembesan dan membuang air laut ke luar dari palka. Tetapi, rembesan air makin tak terbendung, lama-kelamaan hampir separuh badan kapal sudah tergenang air. Genangan air laut, akhirnya menenggelamkan mesin.

Dalam keadaan layar berantakan dan mesin mati, kapal terasa melaju terhuyung-huyung. Kami hanyut terbawa arus yang sangat kuat ke arah selatan. Kemudi berubah liar tak terkendali. Keadaan demikian, praktis kami alami selama 60 jam atau 2,5 hari.

Akibat dorongan arus yang sangat kuat, dan kapal meluncur dengan cepat, tahu-tahu kami melihat daratan. Kapal mendekati garis pantai pada jarak sekitar 20 mil.

Jebakan Karang Pescadores

Perasaan cemas yang lebih besar, kembali menyergap. Kami benar-benar khawatir, karena di sebelah barat bagian selatan Taiwan, atau sebelah barat Kaohsiung, sudah menanti hamparan karang, yang tercantum dalam peta sebagai gugusan karang Pescadores.

Apa jadinya jika kapal yang nyaris tidak terkendali ini, terus meluncur ke arah gugusan karang? Sulit dibayangkan, jika akhirnya Java Doll hancur porak poranda. Sementara kami yang berada di atas kapal, sudah tidak berdaya lagi. Pada saat itulah, kami benar-benar berserah diri kepada Dia Yang Maha Kuasa, memohon pertolongan. Kami panjatkan doa, lalu berseru sekuat-kuatnya: Allahu Akbar ! Allahu Akbar…Allahu Akbar!

Kami bertiga bergantian, terkadang bersama-sama mengendalikan kemudi yang terasa berat. Sedapatnya mengarahkan kapal agar tidak meluncur dan terperosok ke gugusan karang Pescadores. Dari baringan-baringan radio yang kami peroleh dengan bantuan sinyal-sinyal stasiun radio di pantai, posisi kami semakin mendekat, sekitar 10 mil lagi dari gugusan pulau karang itu. Sehingga kami bertiga betul-betul harus mengerahkan segenap sisa tenaga yang ada untuk menahan kemudi, mengendalikan arah, menghindarkan kapal dari jebakan jalur-jalur karang.

Belum lepas dari ancaman gugusan karang pescadores, dari jauh samar-samar kami melihat sebuah kapal mendekati kami, tepat di lintasan di mana kami hanyut terbawa arus. Semakin lama, semakin dekat, dan tampak kapal itu semakin besar. Kami terkejut bukan kepalang, ternyata dia dari jenis giant tanker, kapal raksasa Blue Serpent berbendera Panama, dengan bobot mati sekitar 120.000 ton!

Blue Serpent makin mendekat, sepertinya tidak mengacuhkan kami. Rupanya kapal raksasa, yang mengangkut minyak mentah dari Afrika menuju ke Amerika itu, memotong jalur kami dan kini tepat berhadapan dengan Java Doll, yang beratnya cuma 14 ton. Ia bak seekor bison yang tengah merangsek, siap menerkam lawannya yang tak berdaya.

Kapal tanker raksasa itu, terus melaju tanpa mengubah kecepatannya apalagi mengubah arahnya. Maka, segala upaya serta merta kami tempuh. Kami coba menembak berkali-kali dengan suar. Ia tak acuh. Kami berteriak-teriak sekuatnya, tapi sepertinya teriakan kami tenggelam ditelan gelombang. Sementara Blue Serpent tetap berkonsentrasi pada haluannya. Kami menduga, kapal itu tengah dikemudikan secara otomatis.

Rasanya, belum selesai dengan kesulitan pertama, sudah menyusul rintangan kedua, yang jauh lebih mengerikan. Dan kami betul-betul pasrah, menanti detik-detik mendebarkan seraya mengira-ngira, menghitung kancing baju: ‘’kena…nggak, kena…nggak, kena…tidaaaak!’’

Kami sudah tak mampu lagi mengendalikan Java Doll. Sedang kapal tanker itu, melaju dengan dingin tanpa menghiraukan sedikit pun. Tetapi, pada saat-saat kritis, beberapa meter sebelum tanker itu melabrak, ternyata Java Doll oleng ke kiri menghindari crash sambil terayun-ayun dipermainkan gelombang! Kami lolos dari maut, justru karena terhempas arus ikutan. Terayun-ayun menjauh akibat gelombang yang timbul dari badan kapal yang demikian besar yang melaju dengan kecepatan penuh.

The Giant Tanker, Blue Serpent
Blue Serpent melintas tepat di depan mata kami, mulai dari haluan hingga buritan. Seketika pemandangan gelap menghitam. Kami benar-benar tercekam kengerian, dan hanya mampu menahan napas, melihat kenyataan bahwa posisi kami hanya berjarak beberapa meter saja dari daun baja propeler raksasa itu. Setelah Blue Serpent lewat, seketika pemandangan kembali terang. Dan spontan kami menghela napas lega mengucap syukur alhamdulillah!

Kapal tanker itu semakin menjauh. Dan kami kembali terpontang-panting, hanyut terbawa arus. Keadaan demikian kami alami praktis selama 2,5 hari. Mesin tak bisa dihidupkan karena tergenang air. Layar tampak carut-marut berantakan. Sementara itu, kami pun sudah kehabisan tenaga. Kami mencoba mengatur stamina, hingga terpaksa tidur bergantian tergeletak begitu saja sedapatnya di geladak.

Java Doll melaju terus, mengikuti arus dan menghanyutkan kami dalam kepayahan. Dan kini kami dihadapkan pada ancaman semula: gugusan karang pescadores yang tmapak makin mendekat. Sepertinya, kami hanya tinggal menunggu hitungan waktu saja diterjang Pescadores. Hanya keajaiban saja, yang bisa menyelamatkan kami kali ini.

Rupanya, keajaiban itu datang juga. Saat itu, jarum jam menunjukan pukul 03.00 dini hari. Tiba-tiba, kami merasakan suatu keanehan. Kapal diam tak bergoyang. Tak terdengar lagi suara yang sejak kemarin berderak-derak. Seketika, lautan tampak tenang.

John Gunawan segera menaikkan layar jib dan layar besar. Ia tampak gembira, bekerja sambil asyik menikmati lagu-lagu berbahasa Filipina melalui radio yang dipancarkan stasiun dekat pantai Luzon. Saya segera bangun, berusaha mencari posisi kapal. Cuaca ketika itu, sangat membantu. Menjelang matahari terbit, masih terlihat batas-batas cakrawala, yang memudahkan mencari posisi ketinggian bintang-bintang. Sejak di akademi, saya merasa cukup mahir menggunakan sekstan. Jadi, hanya dibutuhkan beberapa menit saja untuk mengetahui posisi kapal. Ketika itu, kami sudah berada di atas sebelah utara kepulauan Filipina.

Kepada John Gunawan, saya mengatakan: ‘’Kalau seandainya kita terus dengan haluan yang sekarang, kita bukannya mengarah ke selatan, tapi justru akan terbawa arus khatulistiwa. Kita akan terdorong lagi sampai teluk Panama sana,” Saya mengingatkan John, agar segera mengubah haluan, memindahkan arah layar.

Belajar dari pelayaran astronomi semasa di akademi, kami merasakan manfaat pengetahuan navigasi dalam melayarkan Java Doll. Meskipun hanya dengan melihat posisi bintang-bintang di langit, kami menjadi tahu di mana kami berada. Maka, seandainya ketika itu haluan tidak berubah mungkin kami tidak akan pernah sampai ke Jakarta. Sebaliknya, malah kami bisa terdampar di pantai Meksiko, karena memang di situ kemudian terjadi gabungan arus khurosiwo dengan arus balik khatulistiwa.

Kagum Melihat SUBIC

Kami berputar haluan. Mengarahkan kapal ke pelabuhan terdekat di pulau Luzon. Terpaksa kami mengolahgerak kapal hanya dengan layar, karena mesin tidak berfungsi. Dengan susah payah, akhirnya kami pun memasuki pelabuhan Dalupiri.

Pelabuhan Yacht
Tiba di pantai, kami menemui Kepala Kampung di sana, yang ternyata seorang pemilik pabrik plywood yang kaya raya. Kami tunjukkan surat pengantar dari Laksamana Soedomo, yang memang telah disiapkan sebelum berangkat. Setelah ia membacanya, kami jelaskan pula bahwa kami adalah pelayar-pelayar Indonesia yang bertugas melayarkan Java Doll dari KeeLung ke Jakarta. Dan kini, kami dalam kesulitan melanjutkan pelayaran, setelah menghadapi kondisi alam yang berat.

Seketika raut wajahnya berubah. Ia menunjukkan simpatinya kepada kami, sehingga kemudian tanpa ragu-ragu ia membantu kami menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan. Terutama persediaan air tawar, perbaikan aki (accu) mesin, dan mengganti bahan bakar yang sudah tercampur air laut. Sehari penuh kami berada di darat membantu Serma Abrar membersihkan mesin dari sisa-sisa lumpur dan kotoran, hingga mesin bisa dihidupkan kembali.

SUBIC, FILIPINA
Keesokan harinya kami meneruskan pelayaran, menuju SUBIC sebagaimana dipesankan Kolonel Mitchell. SUBIC adalah pangkalan Angkatan Laut AS terbesar di Filipina, yang terletak di teluk Manila. Pelayaran menuju SUBIC sangat lancar karena mesin sudah berfungsi ditambah adanya dorongan angin yang sangat menunjang. Itulah pertama kalinya kami memasuki pangkalan angkatan laut yang begitu besar, begitu megah. Ketika itu, tampak dua buah kapal induk Amerika yang sedang berlabuh di sana.

Melalui kontak radio, kami diperintahkan untuk memasuki Marina, suatu area Sailing Club milik Angkatan Laut AS di SUBIC. Tiba di Marina, kami disambut dengan sangat ramah oleh beberapa perwira AS. Selanjutnya, kami pun beristirahat di sana.

Diusir Tentara Malaysia

Setelah beberapa hari beristirahat di Marine Resort pangkalan SUBIC, kami melanjutkan pelayaran. Kapal bergerak meninggalkan pelabuhan, menyusuri gugusan karang Palawan di atas perairan Filipina.

Cuaca cerah. Tetapi tiupan angin yang diharapkan, tak kunjung datang. Seperti mati angin. Kami berlayar dengan lambat sekitar 5-6 knot /jam, hembusan angin yang diharapkan, tidak sesuai dengan kecepatan yang diinginkan. Akibatnya, pelayaran terlambat beberapa hari. Persediaan bahan makanan yang semula diperkirakan cukup untuk mencapai Jakarta, ternyata sudah menipis. Akhirnya, terpaksa kami mengarahkan haluan ke kota Kinabalu (sekarang pelabuhan Malaysia) untuk pembekalan ulang.

Kota pelabuhan Kinabalu terasa asing bagi kami, meskipun sebelum memasuki pelabuhan telah kami pelajari peta pelabuhan melalui pilot book. Dengan melipir perlahan kami mencari dermaga yang kosong. Dari lambung sebelah kiri, pada jarak kira-kira jarak 2 mil, kami melihat dermaga yang kosong dan kelihatan cukup aman untuk merapatkan Java Doll.

Kami meluncur pelan, mengolah gerak kapal supaya merapat dengan mulus. Namun begitu kapal merapat, segerombolan pasukan tentara Malaysia segera mendatangi kami. Mereka tampak garang dan langsung mengusir, melarang kami merapat di sana.

Tetapi, kami jelaskan bahwa kami terpaksa memasuki pelabuhan karena keadaan darurat. Kami tidak bisa melanjutkan pelayaran dan mohon diizinkan barang satu hari berada di situ. Akhirnya, kami diperbolehkan naik. Kemudian kami tunjukkan surat perintah dari Pak Domo disertai penjelasan maksud pelayaran kami, hingga kini terpaksa harus merapat di Kinabalu.

Selanjutnya, kami diminta menunggu. Kira-kira satu jam kemudian, tampak beberapa orang datang ke dermaga. Ternyata diantaranya adalah penjabat dari Atase Pertahanan (Athan) RI di Sabah, seorang tentara berpangkat kolonel Angkatan Darat. Ia menerima kami dengan baik. Bahkan, mengajak kami pergi dari situ dan menawarkan beristirahat di KBRI.

Selanjutnya kami diantarnya ke toko swalayan, memilih barang-barang yang diperlukan. Sementara cadangan makanan disiapkan oleh staf KBRI untuk bekal pelayaran selama seminggu, yang diberikan secara cuma-cuma dari Konsulat KBRI. Begitulah suasana pada saat itu, para petugas-petugas di KBRI sangat memperhatikan kami yang memang sedang kesulitan di negara lain.

Sore harinya, kami meninggalkan pelabuhan Kinabalu. Tampak semakin menjauh lambaian tangan beberapa staf KBRI dan perwira Athan yang sangat ramah itu. Mereka turut mengantar kami bertolak dan meneguhkan kami dalam menghadapi pelayaran berikutnya.

Makan Bubur Secangkir Bertiga

Pelayaran menyusuri pantai, berjalan mulus. Dan kami telah mencapai posisi di utara Kalimantan. Tetapi kemudian cuaca tampak mulai tidak bersahabat. Sekonyong-konyong kami terdorong arus kembali ke utara. Angin bertiup, berlawanan dengan arah kami. Jadinya, kami dihadang arus yang sangat kuat !

Ketika itu, kami berusaha memasuki selat Gelasa, yang lokasinya seperti corong menyempit. Tetapi, berkali-kali mencoba masuk, selama itu pula kami tertolak kembali ke keluar. Arus yang terjadi pada saat itu, terasa sangat kuat tak sebanding dengan kapal kecil kami. Selama tiga hari berturut-turut, kami gagal memasuki selat Gelasa. Akibatnya, kami terombang-ambing terus-menerus. Pelayaran ke Jakarta, yang diperkirakan bisa ditempuh dalam waktu 6 atau 7 hari, ternyata kembali molor. Tentu saja, cadangan makanan pun kembali menipis.

Pada hari keempat, cuaca agak membaik. Saat itulah kami baru bisa menembus selat Gelasa. Ketika itu, persediaan logistik betul-betul mencemaskan. Setelah kami periksa, ternyata yang tersisa hanya ada beras yang tinggal tiga cangkir! Kami harus bertahan dengan bahan makanan seadanya, sebelum bisa mencapai daratan. Tak ada pilihan lain, kami mulai memasak bubur secangkir sehari untuk dimakan bertiga.

Lagi-lagi, terpaksa kami harus segera menemukan daratan untuk mengisi perbekalan. Kami meluncur terus mencari pelabuhan terdekat, yang menurut pilot book adalah pelabuhan Tanjung Pandan, di kepulauan Belitung. Kemudi mengarah ke Tanjung Pandan. Pada area ini, kami harus ekstra hati-hati melewati gugusan-gugusan karang di sekitar pelabuhan.

Setelah berlayar selama seminggu dari Kinabalu, pada pagi hari sekitar pukul 10.00, kami baru berhasil merapat di pelabuhan Tanjung Pandan. Pejabat setempat menerima kami dengan baik, bahkan kemudian mereka membawa kami ke bengkel untuk perbaikan kapal dan mesin.

Sebenarnya, kondisi kapal masih cukup baik. Kami hanya membutuhkan cadangan makanan selama beberapa hari sebelum mencapai Tanjung Priok. Akhirnya, setelah mendapat perbekalan secukupnya, sore hari itu juga kami sudah bertolak meninggalkan pelabuhan Tanjung Pandan.

Dengan dorongan tiupan angin timur, pelayaran kali ini menuju ke Tanjung Priok, berjalan cukup mulus. Satu setengah hari kemudian, kami sudah melihat suar Jaga Utara. Betapa gembiranya kami melihat suar. Yang berarti kami sudah berada di ujung paling utara dari gugusan kepulauan seribu, atau sebelah utara Tanjung Priok!

Meluapkan Sukacita

Kami berlayar terus. Menjelang malam, kembali kami melihat dua buah titik terang mengerjap di tengah laut. John Gunawan menanyakan posisi. Saya mencoba mengamati karakteristik kerlip suar-suar lampu. Berdasarkan buku Kepanduan Bahari, kami yakin bahwa suar di sebelah kiri lambung kapal berasal dari suar Peniki. Sementara suar yang mengerjap di arah selatan kami, yang tampaknya masih jauh adalah suar Damar Besar atau Pulau Edam. Sedang jarak pulau Edam ke Tanjung Priok, sekitar 12 mil.

Wajah kami berseri-seri memandangi suar Edam. Hingga malam itu, kami tak bisa memejamkan mata. Terbersit luapan rasa gembira. Sekitar tiga atau empat jam kemudian, diperkirakan kami sudah berada di lambung kiri pulau Edam. Esok harinya, sekitar pukul 7.00 pagi, kami melihat sebuah menara putih menjulang, tegak berdiri dengan tegarnya. Itulah suar Edam. Betapa gembiranya kami, sehingga tanpa disadari kami bersorak sorai kegirangan. Kami terus berteriak-teriak seraya berangkulan bagai orang gila.

Suar Edam sudah kami lewati. Dua jam kemudian, kami memasuki pintu masuk pelabuhan Tanjung Priok. Dari kontak radio yang kami tangkap lewat saluran VHF, kami diperintahkan masuk melalui alur pelabuhan Nusantara, di mana satuan kami, Motor Torpedo Boat Jerman, berada.

Sekitar pukul 10.00 pagi, kami memasuki Pondok Dayung, di mana pangkalan satuan Kapal Cepat Torpedo berada. Di dermaga tampak kapal-kapal perang berjejer. Betapa gembiranya perasaan kami. Maka, begitu kami melewati deretan kapal-kapal perang yang tengah berlabuh di sana, kembali kami berteriak-teriak sekuat-kuatnya, seakan ingin membangunkan semua perwira atau awak kapal di sana. Tetapi, tak ada balasan sambutan seperti yang diharapkan. Beberapa diantaranya, ada yang melongok keluar. Namun rupanya mereka masih ragu, tak mengenal kapal siapa yang melintas pagi itu. Apalagi kami tak sempat bercukur, brewok tumbuh tak karuan, kulit tampak hitam terbakar matahari.

Kami tak tahan lagi. Segera kami ambil tabung tabir asap, kami tarik pelatuknya maka menyemburlah berhamburan asap berwarna oranye, seperti kabut pelangi dengan warna yang menarik perhatian. Sehingga ketika kami melewati kapal cepat MTB, kami menjadi pusat perhatian seluruh ABK dan perwira di sana.

Kami terus berteriak-teriak, meluapkan kegembiraan. Mungkin melihat Java Doll mereka masih asing, tetapi setelah tahu bahwa kami adalah salah satu anggota di kapal Cepat tersebut, mereka pun menyambut bersorak-sorai. Tampak dari setiap kapal segera menurunkan sekoci karet, menyambut kami lalu memandu merapat di dermaga kepolisian laut AIRUD.

Rupanya, kedatangan kami sudah diketahui. Di sana tampak menunggu Kolonel Jerry Mitchell didampingi beberapa perwira. Satu persatu menyalami dan merangkul kami. Betap gembiranya mereka dengan keberhasilan kami, sebagai awak kapal yang membawa kapal kecil dengan selamat mengarungi laut Cina Selatan. Ketika cuaca pada saat itu, memang lumayan berat. Kolonel Mitchell tampak bersukacita. Ia menepuk bahu saya berkali-kali, begitu pula dengan awak lainnya. Ia mengatakan rasa terimaksih dan bangganya terhadap kami, yang berhasil membawa kapalnya dengan selamat.

Sebenarnya, pelayaran ini tertunda beberapa hari dari rencana. Tidak ada kontak radio dengan pangkalan. Sehingga ketika kami tengah berjuang dengan maut, Kol. Mitchell menganggap kapalnya sudah hilang. Tetapi, kini dihadapannya terbukti kenyataan lain. Seluruh awak selamat, begitu pula kapal dalam keadan baik, mulus dan bersih. Pada hari itu juga, kami serahkan kapal kepada pemiliknya. Sekali lagi, dia mengucapkan terimakasih.

Tiga hari sejak serah terima kapal, kami kembali bertugas seperti biasa, di KRI Anoa. Malah seminggu kemudian, kami mengikuti latihan gabungan pendaratan di pantai Lampung Barat, bersama armada dan seluruh Angkatan.

Namun sebelum mengikuti latihan gabungan, saya menerima tembusan surat ucapan terimakasih dari Kol. Mitchell kepada Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Subono. Berikut petikan surat dari Kol. Mitchell tersebut, yang membuat kami terkesan, bangga sekaligus merasa terharu, atas apresiasi yang diberikannya.

OFFICE OF THE DEFENSE ATTACHE
JAKARTA, INDONESIA
U-579-74 12 June 1974
Admiral R. Subono
Chief of Staff, Indonesian Navy
Headquarters, Indonesian Navy
Jakarta

Dear Admiral Subono:
Our ‘’lost ship’’ has finally arrived on June 5 Th in good shape with a healthy and happy crew. Please accept my deepest appreciation for the assistance you and Angkatan Laut have extended to me in this project.

I am particularly greatful for the services of Lieutenant Gita Kusuma and Sergeant Buhari. They are two of the finest young men I have ever known and their devotion to duty and professional skills contributed significantly to the successful completion of the voyage under very difficult circumstances.

Lieutenant Gita exhibited unusual skill in celestial navigation over the 2,300 mile journey. His primary duties were as navigator. With only a sextant and his tables at his disposal he maintained the ship’s position to an extremely accurate degree. The course of the voyage took our vessel hundreds of miles from land for periods of as long as a week at a time. His performance warrants commendation.

Sergeant Buhari, as the engineer, demonstrated remarkable ability to maintain and repair a new and untried engine that sometimes presented us with mysterious problems. He was always innovative and resourceful and accomplished difficult repairs with a minimum of proper tools and supplies. At one time, because of fuel contamination from seawater, he restructured the entire fuel system and provided an emergency auxiliary fuel tank from which to run the engine. His good humor and boundless stamina served as a good example to all of us. He also proved to be an excellent cook and dishwasher.

As I mentioned above, the trip was at times difficult and deserves some description. At the beginning, in Keelung, Taiwan, we were delayed a week in commissioning and ultimately had to perform most of the work ourselves. These gentlemen accomplished much of the work and their nautical background proved very valuable in preparing the boat for her maiden voyage. On the third day out in the Taiwan Straits we encountered a severe tropical storm with Force 9 winds and 5-meter seas which lasted for two and a half days. We rode south with the storm for 60 hours under bare poles. Keeping the boat running with the seas without broaching was our major task. We each stood two-hour watches at the helm, often strapped in to avoid being washed away from the wheel. Gita and Bob once again proved more than equal to the challenge.

As you know Admiral, when we reached Subic Bay, Philippines, the delay had forced me to return to Jakarta by air to resume my duties. It was with the utmost confidence that I was able to turn over the responsibility to my Indonesian friends of bringing the vessel home to Jakarta.

The latter portion of the trip was equally difficult as it was plagued with mechanical difficulties, strong adverse currents and little wind. Once again the crew struggling and brought the boat home safely. The voyage was an exhilarating experience for me and I thank you for the opportunity of sailing with these courageous seamen. I will always be proud to hoist the Mera Putih along side the Stars and Stripes from the yardarm of the JAVA DOLL.


Most respectfully,
JERRY J. MITCHELL
COLONEL, USMC
NAVAL ATTACHE

Copy to:
Kol. AL. Urip Santoso
PEROPI


*] Pulau-pulau di gugusan kepulaun Seribu, ketika itu masih perawan. Kini banyak yang telah beralih fungsi menjadi Marina, yang dimiliki secara pribadi para konglomerat di Jakarta. Keadaannya pun tak sebebas dulu. Sekarang, begitu kapal merapat langsung dikenakan pungutan, membayar kepada pemilik Marine Resort tersebut. Akibatnya, banyak kapal yang enggan berlayar ke sana. Juga karena khawatir mengganggu privacy pemiliknya.

*] Laksamana Soedomo ketika itu menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Olahraga Perairan Indonesia (Peropi). PEROPI adalah sebuah organisasi yang membawahi: Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia (PORLASI), Persatuan Power Boat Indonesia (PPBI), Persatuan Dayung Seluruh Indonesia (PERDASI), dan Persatuan Olahraga Bawah Air Nasional (PORBANAS). Selain itu, Laksamana Soedomo juga menjabat Wakil Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib).
                                                                                                      

           

Tidak ada komentar: