Senin, Mei 19, 2014

Saatnya Indonesia Bersaing Melalui Gagasan dan Ide Kreatif (1)

Harry Waluyo
STRUKTUR perekonomian dunia mengalami transformasi dengan cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dari yang tadinya berbasis Sumber Daya Alam (SDA) menjadi berbasis SDM (insan kreatif). Konsep Ekonomi Kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.

Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan pembagian gelombang peradaban ekonomi ke dalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri. Ketiga adalah gelombang ekonomi informasi. Kemudian gelombang keempat gelombang ekonomi kreatif yang berorientasi pada ide dan gagasan kreatif.

Menurut ahli ekonomi Paul Romer (1993), ide adalah modal ekonomi yang sangat penting, lebih penting daripada objek yang ditekankan pada banyak model ekonomi. Di dunia yang memiliki keterbatasan fisik ini, penemuan ide-ide besar bersamaan dengan penemuan jutaan ide-ide kecil yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi. 


 “The creative economy is one of the most rapidly growing sectors of the world economy. It is highly transformative in terms of income generation, job creation and export earnings. But that is not all. The creative economy also generates non-monetary value that contributes significantly to achieving people-centered, inclusive and sustainable development.” (Creative Economy Report 2013, UNESCO AND UNDP). 

Apa itu Ekonomi kreatif?

UNCTAD (United Nations Conference On Trade Development) menyebutkan ciri-ciri Pengembangan Ekonomi Kreatif, diantaranya meliputi:
Pertama, ekonomi kreatif dipelajari secara memadai (nurtured); karena dipelajari terus menerus, ekonomi kreatif sangat adaptif dan oleh karena itu berkelanjutan.
Kedua, pembangunan ekonomi kreatif difokuskan pada pengembangan sumber daya insani; ekonomi kreatif menempatkan manusia sebagai subjek yang menentukan arah dan tujuan hidupnya. 
Ketiga, bahan bakar ekonomi kreatif adalah budaya; dalam hal ini budaya diartikan sebagai mindset. Keempat, ekonomi kreatif bersifat inovatif (ide-ide yang tidak pernah habis).
Kelima,  ekonomi kreatif menciptakan lapangan kerja (job creation); insan kreatif mendorong pertumbuhan ekonomi dan produktivitas. 
Keenam, ekonomi kreatif melibatkan seluruh lapisan masyarakat (social inclusion); ekonomi kreatif dari insan kreatif, oleh insan kreatif, untuk kesejahteraan umat manusia.  
Ketujuh, ekonomi kreatif sangat menghargai keanekaragaman budaya; kekuatan ekonomi kreatif terletak pada keunikan dan kekhasan produk barang atau jasa yang memiliki keunggulan kompetitif. 
Kedelapan, ekonomi kreatif menjaga lingkungan hidup yang berkelanjutan; sejak dari penggunaan bahan, proses  produksi, sampai limbahnya, tidak boleh mencemari lingkungan. 

Dominic Power & Allen J. Scott (2004) mengatakan,  ‘’new economy, based on industries that supply cultural products or services’’ Produk barang atau jasa yang dihasilkan ekonomi kreatif harus mengandung nilai, makna, dan identitas yang digali dari sumber daya budaya lokal agar dapat bersaing di arena global.

Penelitian Nielsen baru-baru ini memperlihatkan hasil menggembirakan bahwa daya saing local brand sangat menggembirakan. Brand lokal Indonesia berada di ranking 58, di atas Philipina (53), Korea Selatan (46), Jepang (46), Thailand (45), dan Malaysia (41). Kekuatan brand lokal Indonesia terletak pada persepsi individu dan masyarakat Indonesia, yang mencintai produk buatan Indonesia.

Ditjen Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan IPTEK (EKMDI) berupaya mewujudkan ekonomi kreatif berbasis media, desain, dan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bernilai tambah, berdaya saing, dan berkelanjutan untuk kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Untuk mencapainya, Ditjen EMKDI kami berupaya meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap pelaku dan karya kreatif;  mendorong penciptaan inovasi  dan menciptakan tata pemerintahan yang responsif, transparan, dan akuntabel.

Peluang Ekspor Ekonomi Kreatif

Laju pertumbuhan PDB Indonesia Tahun 2010-2013 atas dasar harga konstan 2000=100 sektor ekonomi kreatif sebesar 5,76% lebih besar daripada PDB Indonesia sebesar 5,74%. Nilai PDB ekonomi kreatif sebesar Rp 641,8 triliun (7%), dengan jumlah unit usaha sebanyak 5,42 juta unit (9,68%), dan jumlah tenaga kerja sebanyak 11.872.428 orang (10,7%) dari total tenaga kerja Indonesia. 

Laju pertumbuhan Nilai Tambah Bruto (NTB) ekonomi kreatif Indonesia 2012-2013 untuk subsektor layanan komputer sebesar 9,44% dan arsitektur sebesar 8,04%. Ditinjau dari laju pertumbuhan tenaga kerja ekonomi kreatif Indonesia 2012-2013: untuk subsektor periklanan sebesar 4,72%, riset dan pengembangan sebesar 4,21%, sedangkan film, video, dan fotografi sebesar 4,15%. 

Pertumbuhan ekspor ekonomi kreatif Indonesia sebesar 8,01% lebih besar daripada pertumbuhan ekspor Indonesia sebesar 4,03%. Subsektor ekonomi kreatif Indonesia yang laju pertumbuhan ekspornya terbesar yaitu di bidang mode sebesar 9,51%, kerajinan sebesar 7,67%, periklanan sebesar 5,52%, arsitektur sebesar 4,48%, film, video, fotografi sebesar 4,43%, radio dan televisi sebesar 4,26%, dan kuliner sebesar 4,02%. 

Program dan Kegiatan Menarik

Dalam mengembangkan Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain, dan Iptek, Ditjen EKMDI memiliki Program Pengembangan yang diimplementasikan melalui: Peluncuran Indonesia Channel (www.indonesiakreatif.net). Selain itu, kami juga memfasilitasi Peningkatan Akses Pembiayaan Pelaku Animasi, dengan tujuan untuk menggalang kekuatan dan kebersamaan di antara animator, stasiun televisi, perusahaan swasta, perbankan dan pemerintah untuk mengedepankan film animasi yang berbudaya dan berdaya saing.

Melalui suatu lokakarya Animasi dan Animator Nasional Berprestasi, kami juga mengadakan Kompetisi Penciptaan Karakter Lokal. Kegiatan ini bermanfaat bagi pelaku kreatif konten media animasi pada khususnya dan pelaku industri animasi umumnya. Kompetisi Penciptaan Karakter Lokal Indonesia dimaksudkan menyerap masukan-masukan yang penting bagi pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan daerah, serta masukan-masukan yang bermanfaat bagi upaya pengembangan karya kreatif media animasi.

Kegiatan menarik lainnya adalah kompetisi Membuat Komik Dengan Muatan Lokal Indonesia.
Kegiatan ini bertujuan untuk  memacu kreativitas dan potensi komikus Indonesia dalam berkarya, membagi informasi tentang kiat-kiat membuat komik yang tematik dengan latar belakang budaya dan karakter Indonesia dan membangun jejaring berbasis komunitas untuk menciptakan skenario distribusi di daerah bagi penerbit-penerbit mandiri.  Baik secara daring maupun cetak. Juga  memperkuat basis komunitas komik online maupun cetak dengan meningkatkan produktivitas dan kualitas karya komikus, serta memberikan ruang publik bagi para pemula di industri komik untuk menampilkan karya-karyanya. 

Animasi Didi Tikus

Dalam beberapa tahun terakhir, industri animasi Indonesia mengalami kemajuan yang cukup signifikan, ditandai dengan kesediaan sebuah stasiun TV Nasional menayangkan karya animasi asli Indonesia, Didi Tikus. Film animasi yang dianggap memiliki tokoh dengan karakter yang kuat ini, mampu pula mencuri perhatian  penikmat animasi tanah air. Terutama kalangan anak-anak dan remaja. Di balik itu, ternyata Indonesia juga memiliki begitu banyak pelaku kreatif bidang animasi, terutama perorangan. 

Festival animasi yang rutin diselenggarakan di beberapa negara, menjadi salah satu wadah yang tepat dalam memperkenalkan film animasi Indonesia ke dunia internasional. Sekaligus sebagai tempat belajar bagi para pelaku industri animasi tanah air  untuk meningkatkan wawasan, kemampuan dan kualitas para animator Indonesia.

Mengingat antusiasme yang tinggi, maka pemerintah pun memfasilitasi akses dengan dunia animasi internasional. Diharapkan, para pelaku industri animasi akan semakin bermunculan dengan bakat dan kemampuan yang semakin berkembang, sehingga film animasi lokal mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bahkan merajai dunia animasi regional. Seperti pernah dilaksanakan di Tokyo (Drama Shooting Film TV Aishiteru), Inggris (Film London), Dubai (Dubai International Film Festival and Video Games 2013). ****

Penulis, alumnus UNPAD dan Universitas Indonesia bidang Ilmu Budaya. Saat ini menjabat Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan Iptek (EKMDI), pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI 

Tidak ada komentar: