Senin, Mei 19, 2014

Mulai Dari Periklanan Hingga Reka Baru Desain

Saatnya Bersaing Melalui Gagasan dan Ide Kreatif (2)


Oleh: Harry Waluyo

Harry Waluyo
BULAN Desember 2012, saya dilantik sebagai Dirjen Ekonomi Kreatif berbasis Media, Desain, dan IPTEK (EKMDI) oleh Mari Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pada mulanya, saya mengira bahwa ekonomi kreatif melulu menggunakan pendekatan ekonomi. Ternyata ekonomi kreatif itu memadukan disiplin ilmu lain alias multidisiplin.  Seperti ilmu budaya, ekonomi, teknologi, pendidikan dan pariwisata, sebagaimana definisi yang disebutkan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD).

UNCTAD adalah organ utama Majelis Umum PBB, yang berurusan dengan perdagangan, investasi, dan isu-isu pembangunan. Tujuan organisasi yang didirikan sejak 1964  ini adalah untuk memaksimalkan peluang perdagangan, investasi dan pembangunan negara-negara berkembang dan membantu mereka dalam upaya berintegrasi ke dalam ekonomi dunia secara adil.

Ekonomi kreatif meliputi 4 kreativitas, yaitu: kreativitas ilmu pengetahuan, kreativitas budaya, kreativitas ekonomi dan kreativitas teknologi. Sebagaimana telah disinggung pada tulisan sebelumnya, konsep Ekonomi Kreatif merupakan sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.

Di Indonesia sendiri, begitu banyak gagasan dan ide kreatif karya anak bangsa yang sesungguhnya berpotensi meningkatkan daya saing ekonomi, namun tidak sedikit yang memerlukan pemberdayaan dan pengembangan lebih lanjut. Beberapa diantaranya adalah: pembuatan Komik, Animasi, Periklanan, Pameran Buku,  Publikasi Karya Fiksi dan Non Fiksi, Reka Baru Desain Indonesia, pameran busana termasuk busana muslim, hingga bidang yang terkait Teknologi Informasi. Bidang-bidang yang berpotensi memiliki daya saing inilah yang menjadi perhatian dari program dan kegiatan EKMDI.


Festival Komik Internasional

Partisipasi Indonesia pada festival komik internasional merupakan jendela budaya, yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana promosi dan apresiasi karya animasi Indonesia. Keikutsertaan pada berbagai festival komik merupakan peluang memperkenalkan komik  Indonesia di luar negeri.

Festival Komik ini juga seharusnya bukan sekedar  promosi, tetapi juga sebagai sarana pemacu dan pemicu kreativitas. Lebih jauh festival Komik Internasional ini akan menjadi langkah awal Komik Indonesia menembus pasar Internasional. Kegiatan ini telah dilaksanakan di Singapore (Singapore Toys, Game, and Comic Convention) dan Philippina (9th Annual Philippine Komiks or KOMIKON 2013) 

Festival Film Animasi 

Festival animasi telah diselenggarakan oleh beberapa komunitas animasi tanah air. Melalui festival ini, bermunculanlah para pelaku animasi baru atau orang-orang yang sekadar tertarik untuk menikmati animasi produksi bangsa Indonesia. Fakta ini menggembirakan, karena memberikan kesempatan bagi para pelaku animasi Indonesia untuk mengembangkan diri dengan menciptakan karya-karya baru yang  berkualitas, agar menjadi tontonan dan tuntunan yang senantiasa dinikmati oleh penikmat animasi bangsa kita. 

Untuk itu, pemerintahpun melakukan berbagai upaya pendampingan dan fasilitasi. Diantaranya dengan mengikuti berbagai kegiatan animasi di luar negeri. Setelah mengikuti pekan Animasi tingkat dunia,  diharapkan kualitas dan kuantitas para pelaku  animasi Indonesia makin meningkat dan mampu menghasilkan karya-karya yang berkelas internasional.

Periklanan Daerah

Di bidang periklanan, kami tengah menyusun Direktori Perusahaan dan Insan Periklanan berdasarkan jenis Profesinya. Tujuannya,  untuk mengetahui sejauhmana perkembangan industri periklanan Indonesia. Dan mengetahui perkembangan pelaku kreatif periklanan. Kegiatan diselenggarakan melalui wawancara dengan pelaku industri periklanan, yang dihadiri oleh P3I (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia). Dan melibatkan perusahaan-perusahaan iklan di Jakarta dan daerah.

Kegiatan kompetisi periklanan lokal di tingkat provinsi, juga perlu diselenggarakan untuk memberikan apresiasi kepada pelaku periklanan lokal di seluruh Indonesia. Tujuan kompetisi periklanan lokal adalah: mengapresiasi pencapaian periklanan lokal;   terpilihnya pemenang iklan dengan kualitas terbaik sesuai masing-masing kategori yang ditentukan; dan terwujudnya ruang promosi produk industri kreatif berskala UKM di daerah.

Titik cerah masa depan periklanan sebagai sebuah unit usaha, dapat diprediksi dari adanya perkembangan industri-industri klien (client side industry), yang berbanding lurus dengan pertumbuhan industri periklanan daerah.

Melalui kompetisi iklan daerah juga diharapkan tercapai pendekatan kepada target konsumen secara tepat, sehingga para pelaku industri merasa perlu menggandeng perusahaan periklanan di daerah sebagai rekanan dalam melaksanakan strategi komunikasi pemasaran, dengan mengintegrasikan media lini atas-bawah. Dengan menggandeng perusahaan daerah, maka rumusan strategi komunikasi pemasaran yang disusun akan lebih efektif, karena pendekatan yang digunakan (baik dalam tataran perumusan pesan maupun pemilihan media periklanan), lebih sesuai dengan kondisi setempat.  

Pada 2013 yang lalu, kompetisi iklan daerah mengusung brand “Kreatifa” untuk memotivasi pelaku periklanan muda potensial. Kompetisi ini diselenggarakan di Yogyakarta dengan peserta Pelajar dan Mahasiswa se-Jawa Tengah dan Yogyakarta. Orang muda merupakan potensi kreator periklanan masa depan, karena itu keberadaanya perlu terus dimotivasi dan ditumbuhkembangkan, baik untuk masa depan mereka sendiri maupun bagi pertumbuhan ekonomi kreatif di masa depan.

 Festival Film Iklan Indonesia (FFIN) 

Salah satu karya seni budaya yang dimanfaatkan sebagai media iklan ialah film. Saat ini banyak perusahaan periklanan yang bekerjasama dengan perusahaan perfilman untuk suatu tujuan produksi film iklan. Perpaduan seni dan teknologi yang sinergis antara citarasa seni dan nilai komersil tinggi, menjadikan industri film iklan sebagai salah satu pekerjaan yang diminati banyak orang, khususnya kalangan generasi muda. Semangat berkarya dan menjadi produktif, harus diimbangi dengan kesungguhan untuk memberikan yang terbaik bagi profesi dan citra jatidiri bangsa.

Tantangan industri film iklan Indonesia, memang tidak lepas dari dinamika global yang dapat mengancam kreator film iklan lokal dalam membangun citra jatidiri nasional dan tata kelola periklanan dalam negeri. Karena itu, FFIN sebagai kegiatan baru di bidang periklanan, perlu disosialisasikan dan dipublikasikan dikalangan orang muda utamanya mahasiswa.

FFIN diimplementasikan dengan brand FFIM (festival film iklan muda),  dihadirkan agar orang muda termotivasi untuk terus berkarya dan membangun jejaring dan kolaborasi sesama kreator dan kalangan industri, agar bermanfaat bagi diri sendiri dan pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia.

Reka Baru Desain Indonesia (RBDI)

Program dan kegiatan lain yang menarik adalah Reka Baru desain Indonesia (RBDI). RDBI adalah kegiatan seleksi desain inovatif Indonesia. Meliputi bidang arsitektur, arsitektur lansekap, desain iluminasi, desain interior, desain produk, desain kemasan, desain komunikasi visual dan desain mode.

RBDI bertujuan menemukan dan memetakan karya desain potensial dan kreatornya. Melalui program ini diharapkan terbuka kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal kapasitas talenta-talenta baru dunia desain Indonesia secara berkelanjutan. 

Lingkup bidang seleksi RBDI meliputi Arsitektur, Arsitektur Lansekap, Desain Iluminasi, Desain Interior, Desain Produk, Desain Kemasan, Desain Komunikasi Visual dan Desain Mode. Lingkup bidang tersebut tidak diberlakukan secara masif karena pada masa sekarang banyak terjadi karya-karya desain yang saling melintas disiplin sehingga terjadi karya-karya yang hybrid. Demikian juga seorang desainer seringkali berkarya melintas batas profesinya, baik secara personal maupun karena berkolaborasi dengan desainer lainnya.

RBDI tidak mencari pemenang berdasarkan pemeringkatan melalui sistem penjurian tetapi menilai karya dan kreatornya berdasarkan potensi yang dimiliki. Potensi ini meliputi kreativitas, kontribusi ekonomi, kontribusi sosial maupun kontribusi pada pelestarian lingkungan yang akan dinilai oleh Tim Kurator yang kompeten dalam bidangnya. 

Pada RBDI 2013 tim kurator memilih 20 orang Desainer Terpilih untuk mengikuti Business Design Week di Hong Kong sebagai ajang pembelajaran. Adapun tema RBDI 2013 yaitu Indonesia Design Power. Tema ini mempunyai pengertian luas dan tidak mengikat agar tidak membatasi para desainer dalam berkarya. Selain itu juga mengandung harapan untuk mengetahui seberapa besar potensi kekuatan desain Indonesia sebagai salah satu pilar pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. 



Penulis adalah Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan Iptek (EKMDI), pada  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI 

Tidak ada komentar: