Jumat, Juli 10, 2015

Sensasi Night Ride di Sudut Kota Bekasi

Bersepeda memang menimbulkan sensasi tersendiri yang unik. Mengapa? terkadang kita tak habis pikir, hanya dengan peralatan sederhana, juga hanya dengan genjotan kaki saja, tahu-tahu kita sudah berada di suatu tempat yang dituju. Ini terasa lain, jika kita menggunakan sepeda motor atau mobil.

Ada kegairahan yang terus menerus mengundang rasa tidak percaya akan kekuatan fisik dan semangat kita, sehingga menimbulkan pertanyaan aneh pada diri sendiri: ''Ko' bisa ya saya berada di suatu tempat lain hanya dengan sepeda?''

Pertanyaan itu bisa muncul ketika kita berada di atas sebuah bukit terjal, di hamparan ladang luas atau di balik air terjun yang menawan, atau sebuah tempat-tempat yang menyegarkan pandangan.

Benar, ini sulit dijelaskan, sebab adrenalin naik dan membuncah manakala Anda sudah duduk di atas sadel kemudian meluncur di jalan raya atau menuruni bukit terjal atau ketika kita berada di hutan pinus yang asri.



Suatu ketika, saya sangat ingin bersepeda. Tetapi kondisinya waktu itu sudah larut malam. Maka, tak peduli lagi segera kuangkat sepeda dan segera berpakaian lalu meluncur saja...!


Tak ada tujuan selain ingin genjot dan meluncur saja. Keluar dari rumah yang dihadapi adalah jalan raya yang ramai...pusat kota bekasi yang ramai. Saya melipir menuju ke pinggir kota lalu menyusuri sudut-sudut gelap, naik tanjakan, turunan, melewati keramaian pasar, melihat kesibukan para kuli dan inang-inang penjual sayuran di malam hari.Sungguh pemandangan yang jarang. Kita menjadi sadar, bahwa hidangan makanan yang selalu tersedia di meja kita berasal dari mereka, setelah melalui mata rantai yang panjang.

anak-anak tidur di emper toko
Dari atas sadel sepeda pula di malam hari, saya melihat begitu banyak toko-toko mewah di siang hari di pusat kota, ketika malam gelap berubah menjadi emplasemen tempat tidur para gelandangan dan tuna wisma.

Kita bisa menyaksikan ada anak-anak di tengah malam bertelanjang bulat bergeletakan. Sementara sang ibu, dengan berpakiaan kumal berada disampingnya. Dan jumlah para tuna wisma ini, tidak sedikit. Apalagi menjelang Iedul Fitri 1436 H ini, bisa terlihat dari setiap 5 buah toko yang saya lewati, selalu ada sebuah keluarga tuna wisma.Terkadang mereka menjadi sasaran para remaja mesjid membagikan nasi bungkus menjelang sahur, tetapi itu hanya terjadi sesekali saja.

Mendekati kawasan terminal Bekasi di malam hari, tampak pemandangan sangat berbeda dengan tumpukan kendaraan yang menimbulkan asap poluasi dan kemacetan di siang hari.

Kehidupan malam, warung kopi remang-remang, sopir tembak, prostitusi, lapo tuak, alunan gitar disertai suara parau pelepas kepenatan para sopir dan kernet serta para kuli, menjadi harmoni unik, terkadang tercium pula aroma minuman keras dan tentunya senyum genit para penjaja seks bebas. Semua ini hanya bisa tertangkap dari atas sebuah sadel sepeda yang melewati mereka diam-diam tanpa permisi. Dan di alun-alun terminal, tepatnya di balik taman dengan sejumput rerumputan tanpa listrik penerangan itulah, transaksi itu di tuntaskan!

Begitu banyak sensasi unik yang bisa dijumpai tatakala Anda berada di atas sadel sepeda, yang meluncur sesuka hati kemana saja kaki menggowes serta tangan memegang kemudi arah. Anda akan dibawa langsung mendarat di dunia nyata, benar-benar  down to earth! yang tidak terasa jika Anda berada di balik kaca mobil.

Razia PSK di Bekasi
(foto; bekasiurbancity)
Jika Anda senang menangkap fenoma kehidupan lain, berhenti dan duduklah sebentar di tempat-tempat mana saja yang Anda sukai. Pesanlah sebutir kelapa hijau, atau secangkir kopi pahit.

Anda akan menangkap semua fenomena itu sambil  mengobrol melepas lelah, dengan para pemilik warung, petugas parkir, atau siapa saja yang terbiasa di daerah itu, kita bisa dengar cerita-cerita unik lengkap dengan bumbu gosip para pelacur, petugas Satpol PP, para petugas pengutip retribusi yang memberi tahu kapan ada penertiban kaki lima. Para pejabat bisa menangkap banyak masukan dari  akar rumput,orang-orang marjinal di pinggir jalan.

Di saat itulah, kita benar-benar mendapat pelajaran tentang seni dan  pergulatan hidup sebenarnya, sebagai cara melihat dan memahami arti baik dan buruk. Ketika kehidupan malam dan prostitusi secara resmi dilarang di tempat-tempat hiburan, maka meruyaklah mereka ke pinggiran dan sudut-sudut kota.

Dengan bersepeda keliling kota (night ride gowess), lalu  Anda pulang ke rumah membawa gambaran di dalam benak yang lain. Ini karena kita menangkap sudut pandang dan persepsi yang berbeda ketimbang yang dilihat dari televisi atau dengan membaca koran tentang manusia marjinal kota, yang jumlahnya kian banyak.

Tidak ada komentar: