![]() |
| Sebanyak 600 Unit Hunian Sementara, diserahkan DANANTARA kepada pemkab Aceh Tamiang, Kamis, pekan lalu (foto:AFP). |
Bencana dahsyat semacam ini bukan yang pertamakali terjadi di Indonesia. Meskipun jenis, skala dan jumlah korban jiwanya berbeda, Indonesia berpengalaman menangani bencana dengan sangat baik di masa lalu, bahkan mendapatkan apresiasi dan pujian internasional. Sayangnya, Pemerintah tidak mau belajar!
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada 28 November 2025 yang lalu, hingga kini masih menyisakan duka mendalam Beberapa desa di aceh Utara dilaporkan hilang. yang musnah, tertimbun dan terisolir, yang berpotensi menambah jumlah korban. Bukan karena bencana itu sendiri, tetapi karena lambannya upaya tanggap darurat yang menyebabkan korban mati karena kelaparan!
Kritik pun semakin deras dari berbagai kalangan. Bahwa apa yang
dilakukan Pemerintah dalam fase genting ini, terkesan amatiran tanpa arah.
Kurang bersungguh-sungguh mengerahkan segala kekuatan, sumberdaya dan
sumber dana. Pemerintah terkesan tidak all-out --tanpa mengecilkan pengorbanan aparat dan para relawan dalam menolong
korban-- Dan yang menyesakkan, tidak sedikit para pejabat, politisi dan
public figure yang 'memanfaatkan' situasi untuk mengejar popularitas di tengah penderitaan korban dan para penyintas.
Sementara, Prabowo tetap bersikeras bahwa Pemerintah masih mampu menangani bencana, seakan menjawab pertanyaan-kenapa pemerintah tidak menetapkan status darurat bencana nasional terhadap bencana Sumatera.
![]() |
| ''N'dasmu,'' ujar Prabowo merespon kritik. Disampaikan pada HUT GERINDRA ke-17, di Sentul, Jabar, (15/01/26). foto: BBC |
Prabowo menekankan, Indonesia masih mampu menghadapi tiga provinsi yang terdampak banjir dan longsor tersebut seperti disampaikannya pada berbagai kesempatan dan terakhir pada rapat terbatas di Aceh Tamiang, Aceh, pekan lalu, sambil memastikan bahwa pemerintah akan (bekerja) habis-habisan.
Sikap Pemerintah yang menolak bantuan asing kini mulai memicu pertanyaan, kecurigaan bahkan 'perlawanan' di mana-mana. Di Aceh ada beberapa yang mengibarkan 'bendera putih’ pertanda menyerah. Bahkan sempat ada yang mengibarkan bendera GAM (Gerakan Aceh Merdeka) sebgai simbol perlawanan, meskipun kemudian segera disita aparat. Juga mulai santer wacana gugatan masyara kat terhadap Pemerintah seakan tidak peduli dengan suara-suara kritis masyarakat, sebaliknya mulai memandang kritik sebagai masalah!
Mengapa Prabowo begitu keukeuh dengan pendiriannya bahwa Pemerintah masih mampu (menangani bencana) dan karena itu menolak tawaran bantuan Asing. Meski fakta di lapangan menujukkan sebaliknya. Berbagai laporan menujukkan kebutuhan-kebutuhan paling mendasar rakyat di sana belum bisa dipulihkan. Pemeritah Daerah lumpuh, fasilitas umum dan layanan kesehatan tidak bisa diharapkan. Listrik belum menyala sepenuhya. pennyediaan Bahan Bakar (BBM) dan Gas (elpiji), juga masih sangat terbatas. Belum lagi soal sanitasi. Seperti kebutuhan air minum /air bersih, yang dirasakan masih sangat kurang, sistem pembuangan air kotor (tinja), penampungan dan pengolahan sampah, masih menyedihkan.
Pertanyaan lebih lanjut, mengapa Pemerintah tidak mau menerima bantuan asing? Apa alasan sebenarnya dibalik itu?
State Capture Corruption
![]() |
| Sosiolog DR. Okky Madasari (foro: BBC) |
Sosiolog Okky Madasari menilai, Pemerintah akan kehilangan atau kekalahan narasi! Bagaimana menjelaskan kayu-kayu hasil tebangan itu? Bagaimana Pemerintah menjelaskan habisnya hutan Sumatra menjadi lahan perkebunan sawit?
Pernyataan menohok datang dari Busyro Muqoddas, mantan pimpinan KPK (2010- 2015) itu menilai, bencana Sumatra tergolong State Capture Corruption.
Korupsi ini berlangsung sistematis oleh kelompok kepentingan, baik politisi, pejabat, maupun pengusaha yang melakukan kebijakan yang menguntukan kelompoknya. alih-alih untuk kepentingan rakyat.
Tragedi kemanusiaan di tiga provinsi ini, menurut Busyro, ''Dilakukan dengan cara political corruption, dalam bentuk membuat undang-undang yang melegalkan sesuatu yang ilegal,'' katanya usai Saresehan Korupsi dan Darurat Iklim di Semarag, Kamis (18/12/25) silam.
Lantas apa yang dimaksud State Capture Corruption? State Capture Corruption adalah bentuk korupsi di mana individu atau kelompok tertentu, biasanya dengan kekuasaan atau pengaruh politik, mengendalikan atau memengaruhi kebijakan dn keputusan Pemerintah untuk memperoleh keuntungan pribadi atau kelompok mereka. Ini dapat terjadi melalui suap, lobi, atau cara-cara lain yang tidak sah.
![]() |
| M. Busyro Muqoddas, mantan Ketua KPK (2010-2015) |
Dalam state capture corruption, Pemerintah atau lembaga negara tidak lagi berfungsi untuk kepentingan publik, tetapi lebih kepada kepantingan individu atau kelompok tertentu. Hal ini menyebabkan penyalahgunaan kekuasaan, ketidakadilan dan kerugian bagi masyarakat.
Bencana Sumatra terjadi ketika perusahaan-perusahaan besar atau individu kaya memengaruhi kebijakan Pemerintah untuk mendapatkan kontrak atau keuntungan lainnya, dengan cara suap atau lobi yang tidak sah.
State capture corruption dapat terjadi di negara-negara dengan sistem Pemerintahan yang lemah atau korup. Untuk mencegahnya, diperlukan adanya transparansi, akuntabilitas dan pegawasan yang kuat dalam pemerintahan.
Sebagaimana diketahui, pemulihan dampak bencana Sumatera membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Semenetara kondisi keuangan Pemerintah saat ini tidak dalam kondisi baik-baik saja.
Efisiensi tengah gencar-gencarnya dilakukan di berbagai sektor, termasuk anggaran BNPB yang menyusut, begitu pula Anggaran transfer ke daerah-daerah, yang sebelumnya banyak dipangkas. Praktis, membuat daerah-daerah (khususnya di tiga provinsi terdampak) kehilangan kemampuan membangun dirinya.
Belum lagi, dalam skala yang lebih besar kita menghadapi masalah korupsi
yang sangat parah. Ditengah beban yang berat menghadapi masalah hutang yang
menggunung akibat kebijakan di masa lalu, yaitu hadirnya KICK (Kereta Cepat
Indonesia-China) yang juga segera jatuh tempo. Dan beban yang lebih besar lagi,
kita ketahui Presiden Prabowo dalam sidang PBB pernah menyatakan komitmen
Indonesia untuk mengirimkan 20 ribu lebih pasukan perdamaian ke Gaza atau ke
daerah konflik lain di dunia. Seperti disampaikannya pada Sidang Umum ke-80 di
Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat (23/9/2025). Dan pengiriman pasukan itu,
dijadwalkan mulai awal tahun 2026.
Sementara di dalam negeri sendiri, Pemerintah tetap melaksanakan program
populer Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menelan biaya besar, Rp 300 Trilyun, meskipun efektivitasnya masih banyak dipertanyakan.
Dengan setumpuk beban ekonomi itu, apakah benar Pemerintah masih mampu menangani dampak bencana Aceh, Sumut dan Sumbar? Sejauh ini, belum jelas benar bagaimana rencana komprehensif dan metode pendekatan yang dilaksanakan dalam menangani bencana ini.
Belajar dari Cerita Sukses BRR
Indonesia mempunyai pengalaman dalam menangani bencana besar, ketiak Banda Aceh dan Pulau Nias, diguncang gempa yang disusul tsunami, pada tanggal 26 Desember 2004 atau 21 tahun silam.
Tidak berapa lama setelah terjadinya bencana tsunami, Pemerintah menyatakan bencana itu sebagai bencana nasional dan kemudian menerima berbagai bantuan internasional. Ketika itu, Presdien Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memerintahkan salah seorang pembantu kepercayaannya, yakni Kuntoro Mangkusubroto, yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Teknik Bidang Pembangunan dan Pengawasan Pembangunan, membentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias.
![]() |
| Prof. DR. Ir. Kuntoro Mangkusubroto (foto: RM.id) |
Dan aceh kembali pulih, bahkan lebih baik, hanya dalam tempo singkat, yakni kurang dari lima tahun! Kesuksesan BRR Aceh-Nias, mendapatkan banyak apresiasi positif dari berbagai lembaga, badan dan Pemerintah asing, bahkan PBB. Mereka menyampaikan apresiasi dan pujian secara internasional.
Bencana tsunami yang menghacurkan Banda Aceh-Nias itu, memang menelan korban meninggal yang jauh lebih besar, yaitu 170.000 jiwa lebih. Sementara, bencana kali ini, menurut laporan BNPB pada 01 Januari 2026, telah mencapai 1157 orang, yang sangat mungkin akan terus bertambah, mengingat masih banyaknya laporan Orang Hilang.
Kunci Keberhasilan BRR
Keberhasilan BRR Aceh-Nias dalam
menangani bencana tsunami pada intinya, didorong oleh kombinasi otoritas yang kuat,
independensi, transparansi, dan pendekatan partisipatif yang melibatkan mitra
internasional dan masyarakat lokal secara efektif.
Strategi utama BRR dalam menangani bencana, adalah:
Pertama, adanya Struktur Kelembagaan yang Kuat
dan Independen. Pemerintah membentuk BRR sebagai badan ad-hoc yang memiliki
wewenang yang besar, setara dengan kementerian, dan independen. Tujuannya
adalah untuk mengatur dana triliunan rupiah dan mengatur seluruh upaya
rekonstruksi. Ini memungkinkan BRR untuk bertindak cepat dan menghindari
prosedur yang panjang.
Kedua, Transparansi dan Akuntabilitas:
Penerapan transparansi dan tata
kelola yang baik yang dipuji oleh dunia internasional merupakan komponen
penting dari sukses BRR. Untuk mencapai tujuan ini, Satuan Anti Korupsi (SAK)
dibentuk untuk memastikan pengelolaan dana yang efisien dan mencegah korupsi.
• Penerapan Pakta Integritas: Mewajibkan semua pihak yang terlibat untuk
berkomitmen pada prinsip anti korupsi.
• Pembuatan RANdatabase: Sebuah basis
data publik yang menjelaskan proyek, dana, dan kemajuan. Ini juga berfungsi
sebagai forum koordinasi dengan lembaga donor (CFAN) dan masyarakat umum.
Ketiga, Pendekatan Partisipatif Berbasis Masyarakat.
BRR menegaskan bahwa
pembangunan harus didasarkan pada kebutuhan masyarakat korban bencana yang
sebenarnya. Masyarakat dilibatkan dalam setiap langkah rekonstruksi sesuai
dengan pendekatan ini. Ini dimulai dengan pengambilan keputusan, di mana
masyarakat terlibat dalam memilih desain rumah dan fasilitas umum.
• Memilih pemasok: Memfasilitasi penyedia jasa dan penggunaan bahan lokal.
• Pengelolaan keuangan: Di tingkat lokal, masyarakat bertanggung jawab atas pengelolaan
dana pembangunan.
Keempat, Kolaborasi dan Koordinasi Multipihak.
Bencana tsunami membutuhkan kerja sama
banyak pihak. BRR berfungsi sebagai koordinator tunggal untuk menyelaraskan
visi dan program kerja antara lembaga donor, LSM internasional dan lokal,
pemerintah pusat, dan pemerintah daerah.
Kelima, BRR memberikan penekanan pada Pembangunan Kembali yang Lebih Baik (Build Back Better). Rekonstruksi tidak hanya mengembalikan kondisi seperti semula, tetapi juga membangun kembali Aceh dan Nias menjadi lebih baik dan lebih tangguh terhadap bencana di masa depan. Salah satu contohnya adalah pembangunan kembali kelembagaan, sarana, dan prasarana yang lebih baik, serta peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal.
Strategi-strategi ini memungkinkan BRR untuk memulihkan Aceh dan Nias dalam
waktu kurang dari lima tahun dan menjadi model penanganan bencana pasca-tsunami
yang diakui secara internasional.
Jadi, mengapa Pemerintah sekarang tidak mau belajar dari bencana tsunami Aceh-Nias? Semestinya, cara pandang kita sekarang sudah jauh lebih baik di banding dua dekade silam.
Cara Pemerintah menangani bencana pasca tsunami di Aceh-Nias, telah mengundang apresiasi internasional. Diantaranya: melahirkan solidaritas internasional, berupa respon kemanusiaan dan upaya bantuan internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni melibatkan lebih dari 50 negara, organisasi non-pemerintah (LSM) dan lembaga donor. Solidaritas ini diakui secara luas sebagai salah satu respons bencana paling signifikan di dunia.





No comments:
Post a Comment